Fenomena alam dibawah permukaan lautan luas

  • 23 Apr 2026 08:37 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Di bawah permukaan lautan yang begitu luas, terdapat berbagai fenomena alam seperti air terjun, sungai bawah laut, hingga gumpalan raksasa yang membentang ribuan kilometer. Namun, sebagian besar dari keajaiban ini berhasil menghindari deteksi para ilmuwan hingga kini. Salah satu penemuan terbaru adalah massa air besar di tengah Samudra Atlantik, yang membentang dari ujung Brasil hingga Teluk Guinea.

Penemuan massa air ini, yang kini disebut sebagai Perairan Khatulistiwa Atlantik, mengubah pemahaman sebelumnya tentang dinamika percampuran air di lautan. Sebelum penemuan ini, para ahli telah mengamati percampuran air di sepanjang garis khatulistiwa di Samudra Pasifik dan Hindia, namun tidak pernah di Atlantik.

"Tampaknya kontroversi bahwa massa air ekuator hadir di Samudra Pasifik dan Hindia, tetapi hilang di Samudra Atlantik karena sirkulasi dan pencampuran ekuator di ketiga samudra tersebut memiliki ciri-ciri umum," kata Viktor Zhurbas, fisikawan dan ahli kelautan dari Shirshov Institute of Oceanology di Moskow, Rusia, dikutip dari Live Science.

Zhurbas menambahkan bahwa penemuan massa air baru ini memungkinkan para ilmuwan untuk melengkapi atau menggambarkan lebih akurat pola fenomenologis massa air di samudra-samudra dunia. Seperti tersirat dalam namanya, Perairan Khatulistiwa Atlantik terbentuk dari percampuran beberapa badan air yang terpisah oleh arus di sepanjang garis khatulistiwa.

Untuk membedakan massa air ini dari perairan di sekitarnya, para ahli kelautan menganalisis hubungan antara suhu dan salinitas di seluruh lautan, yang menentukan kepadatan air laut. Pada tahun 1942, metode ini pernah menghasilkan penemuan perairan ekuator di Samudra Pasifik dan Hindia. Namun, pola yang sama tidak dapat ditemukan di Atlantik selama bertahun-tahun.

Penemuan ini dimungkinkan berkat data dari program Argo, sebuah koleksi internasional dari pelampung robotik yang dapat menyelam sendiri dan telah dipasang di seluruh lautan dunia. Dari data ini, para peneliti mengidentifikasi kurva suhu-salinitas yang sebelumnya tidak diketahui, yang terletak sejajar dengan perairan Atlantik Utara dan Tengah.

"Mudah untuk membingungkan Perairan Khatulistiwa Atlantik dengan Perairan Tengah Atlantik Selatan. Untuk membedakannya, diperlukan jaringan profil suhu dan salinitas vertikal yang cukup padat yang mencakup seluruh Samudra Atlantik," jelas Zhurbas.

Penemuan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada para ilmuwan tentang cara lautan bercampur dan bagaimana mereka mengangkut panas, oksigen, serta nutrisi ke seluruh dunia. Pemahaman ini sangat penting untuk penelitian lebih lanjut terkait dinamika lautan dan perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....