Nada Keroncong Kian Redup di Era Musik Modern
- 09 Feb 2026 16:54 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Di tengah gempuran musik modern dan arus digital yang begitu deras, musik keroncong perlahan kian jarang terdengar. Padahal, genre musik yang telah hadir sejak ratusan tahun lalu ini merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas budaya Indonesia.
Keroncong dikenal dengan alunan lembut instrumen seperti cak, cuk, biola, flute, dan cello, yang berpadu dengan lirik puitis dan sarat makna. Musik ini dahulu menjadi pengiring perjuangan, hiburan rakyat, hingga simbol nasionalisme pada masa pergerakan kemerdekaan.
Namun kini, keroncong seakan tersisih. Generasi muda lebih akrab dengan musik pop, hip hop, hingga K-pop, sementara keroncong kerap dianggap musik “orang tua” dan kurang relevan dengan zaman. Minimnya ruang tampil serta kurangnya promosi membuat eksistensi keroncong semakin memudar.
Sejumlah pemerhati budaya menilai, meredupnya musik keroncong bukan karena kehilangan nilai, melainkan kalah dalam adaptasi. Keroncong dinilai perlu dikemas ulang tanpa menghilangkan ruh aslinya, agar mampu menjangkau pendengar lintas generasi.
Upaya pelestarian sebenarnya masih dilakukan oleh komunitas dan seniman keroncong di berbagai daerah, termasuk melalui pertunjukan kecil, festival budaya, hingga pengenalan di lingkungan pendidikan. Sayangnya, langkah ini belum cukup kuat tanpa dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.
Musik keroncong bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin perjalanan sejarah bangsa. Melestarikannya berarti menjaga identitas dan menghargai warisan para pendahulu. Di tengah perubahan zaman, keroncong masih memiliki ruang untuk hidup asal tidak dibiarkan benar-benar terlupakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....