Jejak Sunyi Pengabdian Sitti Ma’ani Nina Sosok Kartini di Birokrasi Banten

  • 21 Apr 2026 18:21 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni — Di tengah derasnya arus perubahan zaman, sosok perempuan tangguh terus bermunculan dengan cara dan medan juang yang berbeda. Semangat yang dahulu diperjuangkan Raden Ajeng Kartini kini menjelma dalam wujud baru yang lebih sunyi, namun tak kalah berarti, di ruang-ruang pengabdian publik. Salah satunya hadir dalam diri Sitti Ma’ani Nina Inspektur Pemerintah Provinsi Banten.

Tim Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni sempat melakukan kunjungan ke Kantor Inspektorat Banten pada momen Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2026 lalu. Dalam kunjungan tersebut, Nina bersama seluruh pejabat Inspektorat Provinsi Banten turut menyambut kedatangan wartawan dari Papua Barat.

Menyempatkan berbincang bersama wartawan, lulusan SMAN 15 Bandung ini bercerita sekelumit perjalanan kariernya di dunia birokrasi. Ia tampak ramah menyapa rombongan wartawan. Perawakannya yang anggun dan lembut semakin menunjukkan kecerdasan perempuan kelahiran Bandung, 12 Oktober 1968, ini.

Bagi Nina, menjadi Aparatur Sipil Negara bukan sekadar profesi, melainkan jalan panjang pengabdian. Ia memegang prinsip sederhana namun kuat, “hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus melampaui hari ini.” Prinsip itu bukan sekadar kata-kata, melainkan kompas yang menuntunnya untuk terus belajar, bertahan dalam tekanan, dan menjaga niat tulus dalam setiap langkahnya.

Perjalanan kariernya dimulai dari bawah, sebagai staf kelurahan di Kabupaten Serang pada era 1990-an. Saat itu, birokrasi masih serba manual—mesin ketik, arsip kertas, dan proses administrasi yang panjang menjadi bagian dari keseharian. Dari situ, ia belajar ketelitian, disiplin, dan pentingnya komunikasi yang baik dengan masyarakat.

Seiring terbentuknya Provinsi Banten, Nina melanjutkan pengabdiannya di lingkungan pemerintah provinsi. Beragam posisi strategis pernah ia emban, mulai dari bidang kepegawaian hingga komunikasi publik. Jabatan seperti Kepala Bagian Protokol dan Dokumentasi hingga Kepala Biro Humas dan Protokol menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk kepemimpinannya.

Setiap jabatan memberinya pelajaran baru—tentang tanggung jawab, menjaga kepercayaan publik, hingga pentingnya koordinasi lintas sektor. Pengalaman itu semakin lengkap ketika ia dipercaya memimpin Biro Pemerintahan dan Biro Umum, dua posisi yang menuntut kemampuan manajerial serta pengelolaan sumber daya secara efektif.

Sebelum menjabat sebagai Inspektur, Nina mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten. Di sana, ia berjuang menghadirkan kebijakan yang berpihak pada perempuan dan anak, sekaligus memperkuat kualitas keluarga di tengah masyarakat.

Kini, sebagai Inspektur, perannya bertransformasi menjadi penjaga integritas tata kelola pemerintahan. Baginya, jabatan bukan ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Prinsip itu ia pegang erat dalam setiap kebijakan dan keputusan.

Di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, Nina tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Dari keluarganya, ia menemukan makna ketulusan dan kekuatan yang sesungguhnya. Ia percaya, perempuan dapat menjadi pemimpin tanpa kehilangan kelembutan, dengan menggabungkan ketegasan dan empati dalam setiap langkah.

Tantangan terbesar yang ia hadapi bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga perubahan zaman. Dari era mesin ketik hingga sistem digital yang serba cepat, Nina harus terus beradaptasi. Namun, baginya, yang paling penting bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin otomatis.

Komitmennya untuk terus belajar juga dibuktikan dengan meraih sertifikasi CGCAE (Certified Government Chief Audit Executive) sebagai bentuk profesionalisme di bidang pengawasan pemerintahan. Sertifikat itu bukan sekadar pengakuan, melainkan tanggung jawab untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses pemerintahan.

Perjalanan Nina belum selesai. Masih banyak yang ingin ia lakukan untuk masyarakat Banten. Dalam setiap langkahnya, ia membuktikan bahwa semangat Kartini tidak pernah padam—hanya berubah bentuk, menyesuaikan zaman, dan terus hidup dalam diri perempuan-perempuan yang mengabdi dengan hati serta melangkah dengan integritas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....