Kemarau Picu Kelangkaan Sirih dan porsi Pinang di Teluk Bintuni
- 22 Sep 2026 11:27 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari/Kemarau yang terjadi beberapa waktu terakhir berdampak terhadap ketersediaan buah sirih di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga jual sirih dan usaha para pedagang pinang yang mengandalkan ketersediaan sirih sebagai salah satu bahan utama untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Salah satu pedagang pinang di kawasan Kampung Lama, sekitar GOR Teluk Bintuni, Haryati, mengatakan bahwa harga sirih saat ini mengalami kenaikan cukup tinggi. Menurutnya, harga sirih dapat mencapai sekitar Rp750.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut membuat pedagang pinang harus menyesuaikan porsi jualan. Jika sebelumnya pelanggan mendapatkan porsi pinang dengan jumlah yang lebih banyak, kini porsinya harus dikurangi agar tetap dapat menyesuaikan dengan meningkatnya biaya pembelian sirih.
“Sekarang harga sirih sudah tinggi. Jadi kami harus menyesuaikan porsi pinang yang dijual kepada pelanggan,” jelas Haryati.
Salah satu faktor yang menyebabkan sirih semakin sulit diperoleh adalah kondisi kemarau yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Cuaca panas dan berkurangnya ketersediaan air disebut turut memengaruhi hasil produksi tanaman sirih di daerah asalnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pedagang di Teluk Bintuni, sirih bahkan harus didatangkan dari Kota Jayapura. Namun, harga sirih di daerah asal juga mengalami kenaikan sehingga berdampak terhadap harga ketika sampai di Bintuni.
Selain persoalan harga, proses pengiriman dari daerah asal menuju Teluk Bintuni juga menjadi tantangan tersendiri. Sirih merupakan komoditas yang tidak tahan disimpan terlalu lama. Dalam perjalanan, buah sirih dapat mengalami proses pematangan, rusak, bahkan membusuk sebelum sampai kepada pedagang.
“Sirih dikirim langsung dari Jayapura. Di sana harganya juga sudah naik. Pengirimannya membutuhkan waktu, sehingga kadang sirih sudah masak di perjalanan dan ketika sampai di Bintuni kondisinya tidak semuanya bagus,” ungkap Haryati.
Kelangkaan dan kenaikan harga sirih memberikan tekanan terhadap pedagang pinang. Para pedagang harus mencari cara agar tetap dapat berjualan tanpa menaikkan harga secara drastis kepada pelanggan.
Haryati mengatakan, kondisi penjualan saat ini tidak lagi seperti sebelumnya. Dengan harga sirih yang semakin mahal, keuntungan pedagang menjadi semakin kecil. Bahkan, menurutnya, penjualan pinang saat ini bisa dikatakan hampir tidak memberikan keuntungan karena biaya untuk mendapatkan sirih cukup tinggi.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, pedagang memilih menyesuaikan ukuran atau porsi pinang yang diberikan kepada pelanggan.
“Kalau mengikuti harga pembelian sirih sekarang, kami bisa rugi. Jadi yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan porsi pinangnya supaya tetap bisa berjualan,” katanya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....