Harga Sembako di Teluk Bintuni Terus Naik, Daya Beli Warga Menurun
- 23 Jun 2026 17:35 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni – Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Teluk Bintuni terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dikeluhkan para pedagang karena tidak hanya membebani masyarakat, tetapi juga berdampak pada menurunnya daya beli konsumen dan sepinya aktivitas perdagangan di pasar.
Berdasarkan pantauan di Pasar Sentral Teluk Bintuni Jumat pekan lalu,, kenaikan harga terjadi pada berbagai kebutuhan pokok. Minyak goreng yang sebelumnya dijual sekitar Rp410 ribu per karton kini naik menjadi Rp490 ribu per karton. Harga gula pasir juga melonjak dari Rp810 ribu menjadi Rp1 juta per karung.
Selain itu, tepung kanji yang sebelumnya Rp600 ribu per karung kini mencapai Rp800 ribu. Air minum kemasan Aqua naik dari Rp60 ribu menjadi Rp75 ribu per karton. Sementara itu, harga bawang merah meningkat dari Rp60 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram.
Untuk komoditas beras, harga beras premium ukuran 20 kilogram naik dari Rp340 ribu menjadi Rp360 ribu. Sedangkan beras medium masih bertahan di kisaran Rp310 ribu per karung. Beras merek 99 ukuran 10 kilogram kini dijual seharga Rp200 ribu dari harga sebelumnya hanya Rp185 ribu. Di sisi lain, harga telur mengalami sedikit penurunan, dari Rp415 ribu menjadi Rp400 ribu per ikat yang berisi enam rak.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Sentral Teluk Bintuni, Kofiatun, mengatakan kenaikan harga bahan pokok sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum pernah mengalami penurunan yang signifikan.
“Kalau harga sudah naik, hampir tidak pernah turun lagi. Yang terjadi justru terus naik dari waktu ke waktu. Kondisi ini membuat pedagang maupun masyarakat sama-sama kesulitan,” ujar Kofiatun.
Ia juga mengungkapkan bahwa minyak goreng merek Minyakita sudah hampir lima bulan tidak tersedia di pasaran sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan produk tersebut.
Menurutnya, kenaikan harga juga berdampak pada menurunnya jumlah pembeli yang datang ke pasar. Selain faktor ekonomi, perubahan pola belanja masyarakat yang mulai beralih ke platform daring turut memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
“Sekarang pembeli jauh berkurang. Biasanya pasar ramai saat ada pencairan bantuan sosial dari pemerintah, tetapi itu pun hanya berlangsung satu atau dua hari. Setelah itu kembali sepi,” katanya.
Tidak hanya bahan pangan, harga kebutuhan pendukung seperti plastik kemasan juga mengalami kenaikan. Plastik bening naik dari Rp45 ribu menjadi Rp65 ribu per ikat, sedangkan plastik putih naik dari Rp35 ribu menjadi Rp55 ribu per ikat.
Kofiatun berharap kondisi perekonomian daerah dapat segera membaik dan berbagai program pembangunan pemerintah kembali berjalan sehingga perputaran uang di masyarakat meningkat.
“Kami berharap ekonomi kembali pulih dan pasar kembali ramai. Jika proyek-proyek pembangunan berjalan, tentu akan ada perputaran uang di masyarakat yang akhirnya berdampak pada peningkatan daya beli dan aktivitas perdagangan di pasar,” harapnya.
Para pedagang berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok serta percepatan pelaksanaan program pembangunan daerah agar roda perekonomian masyarakat Teluk Bintuni kembali bergerak dan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil di pasar tradisional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....