Harga Plastik Naik Tajam, Pedagang Bintuni Kelimpungan Modal
- 19 Apr 2026 18:07 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni – Tidak hanya bahan makanan pokok yang mengalami kenaikan harga, harga plastik di Kabupaten Teluk Bintuni juga turut meningkat. Berdasarkan pantauan di sejumlah pedagang plastik, kenaikan ini sudah terjadi sejak dua minggu terakhir.
Idris, salah satu pedagang grosir plastik di Kota Bintuni, mengatakan bahwa harga plastik mengalami kenaikan hingga 60 persen dari harga sebelumnya. Meski demikian, ia masih menjual sebagian produk dengan harga lama karena masih memiliki stok lama.
Salah satu produk yang paling banyak dicari adalah plastik bungkus es batu. Harga plastik jenis ini naik dari Rp45 ribu per pack menjadi Rp55 ribu per pack. Selain itu, harga wadah plastik sekali pakai, termasuk gelas minuman yang banyak digunakan pedagang jus dan es teler, juga ikut meningkat.
Menurut Idris, kenaikan harga plastik mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa, yang diduga dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Dampaknya, impor bahan baku plastik terganggu sehingga beberapa pabrik menghentikan produksi sementara menunggu stabilitas harga. Ia juga menyebutkan sempat terjadi kekosongan barang di sejumlah daerah seperti Surabaya.
"Kemarin pertengahan puasa sudah agak goyang, pabrik banyak gudang yang tutup, mereka tunggu stabil harga dulu, sempat order barang ke Surabaya katanya barang kosong," Ujar Idris.
Secara umum, kenaikan harga plastik berkisar antara 60 hingga 80 persen. Namun, beberapa produk lama masih dijual dengan kenaikan di bawah 40 persen. Produk yang paling banyak diminati pembeli antara lain plastik es, mika, dan kantong kresek. Sebagai contoh, plastik es batu per karung yang sebelumnya dibeli seharga Rp1 juta kini naik menjadi Rp1,4 juta. Sementara itu, kantong kresek premium naik dari Rp1 juta menjadi Rp1,2 juta per karung.
Kenaikan ini membuat para pedagang kecil, khususnya penjual makanan dan minuman, harus memutar otak karena modal usaha meningkat sementara keuntungan tetap terbatas. Julianto, seorang pedagang minuman, menyiasati kondisi ini dengan membeli plastik dalam jumlah besar (per pack) agar lebih murah dibandingkan membeli eceran.
"Mensiasatinya saya beli plastiknya langsung pack bukan eceran, karena kalo eceran lebih mahal harganya, kalo per pack lebih murah," Kata Julianto.
Hal serupa juga dirasakan oleh Adi, pedagang rujak buah yang menggunakan wadah mika. Ia memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan, meskipun harus mengurangi margin keuntungan.
"Kemarin mau saya naikin tapi takut pembeli lari, jadi untungnya dimepetin gak papa, harga jualan saya masih sama belum naik," Kata Adi.
Diketahui, plastik merupakan produk turunan minyak dan gas bumi yang diolah menjadi nafta dalam industri petrokimia. Bahan tersebut kemudian diproses melalui polimerisasi menjadi polimer sintetis seperti etilena dan propilena yang menghasilkan berbagai jenis plastik.
Konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi minyak, termasuk dugaan gangguan di Selat Hormuz, menyebabkan pasokan bahan baku tersendat. Hal ini berdampak langsung pada produksi plastik yang kini mengalami keterbatasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....