Dampak Penyelenggaraan Pesparawi Nasional terhadap Inflasi Juni 2026

  • 31 Jul 2026 18:19 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari pada Juni 2026 memberikan dampak terhadap pergerakan inflasi di Provinsi Papua Barat. Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif hasil kerja sama RRI Manokwari bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat yang mengangkat tema "Dampak Penyelenggaraan Pesparawi Nasional terhadap Inflasi Juni 2026."

Dialog menghadirkan dua narasumber dari BPS Provinsi Papua Barat, yakni Putu Krisnanda Supriyatna, S.ST., M.Stat., Statistisi Ahli Muda, dan Rahmadian Muttaqin, SST, Statistisi Ahli Pertama.

Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa pelaksanaan Pesparawi Nasional yang menghadirkan ribuan peserta, ofisial, dan pendamping dari seluruh Indonesia mendorong peningkatan permintaan terhadap berbagai kebutuhan masyarakat, terutama sektor transportasi, akomodasi, konsumsi, serta jasa lainnya. Pesparawi Nasional XIV sendiri digelar di Manokwari pada Juni 2026 dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 8.000 orang, belum termasuk pendamping dan pengunjung.

Putu Krisnanda Supriyatna menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), Papua Barat pada Juni 2026 mengalami inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 1,59 persen, sementara inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 6,99 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas dan jasa, terutama kelompok transportasi, makanan, minuman, serta restoran.

Menurutnya, meningkatnya mobilitas masyarakat selama penyelenggaraan Pesparawi memberikan kontribusi terhadap naiknya permintaan tiket angkutan udara, konsumsi pangan, hingga layanan penginapan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi dinamika inflasi di Papua Barat selama Juni 2026, meskipun inflasi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi lainnya.

Sementara itu, Rahmadian Muttaqin menambahkan bahwa penyelenggaraan kegiatan berskala nasional tidak hanya berdampak pada kenaikan permintaan barang dan jasa, tetapi juga memberikan efek positif terhadap aktivitas ekonomi daerah. Meningkatnya transaksi di sektor perdagangan, perhotelan, transportasi, dan usaha mikro menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang lebih besar selama berlangsungnya kegiatan.

Ia menegaskan bahwa inflasi yang terjadi akibat meningkatnya aktivitas ekonomi perlu dipahami secara komprehensif. Selama kenaikan harga masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan dan diiringi meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, maka kondisi tersebut dapat menjadi indikator tumbuhnya perekonomian daerah.

Melalui dialog tersebut, BPS Provinsi Papua Barat juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa data inflasi merupakan indikator penting dalam melihat perkembangan ekonomi daerah. Informasi statistik yang disampaikan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat dalam mengambil keputusan ekonomi serta menjaga stabilitas harga di Papua Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....