Jalur Perdagangan Rempah Jadi Pintu Masuk Islam ke Tanah Papua

  • 06 Agt 2026 11:02 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Sejarah masuknya agama Islam di Tanah Papua tidak dapat dilepaskan dari peran jalur perdagangan rempah yang sejak berabad-abad lalu menghubungkan wilayah Papua dengan berbagai kawasan di Nusantara hingga mancanegara. Hubungan perdagangan tersebut menjadi media penyebaran nilai-nilai agama, budaya, dan peradaban secara damai. Hal itu disampaikan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat, Naharuddin, pada rangkaian peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua di Manokwari, Rabu, 5 Agustus 2026.

Menurutnya, kawasan pesisir barat Papua, khususnya wilayah Fakfak, sejak lama menempati posisi strategis dalam jalur perdagangan dunia. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kawasan tersebut telah menjadi bagian dari jaringan pelayaran yang menghubungkan Maluku, Banda, Seram, Aceh, Malaka, hingga Timur Tengah.

Ia menjelaskan, berbagai komoditas unggulan seperti pala, masoi, gaharu, kemenyan, hasil laut, dan kekayaan alam Papua lainnya menjadi daya tarik utama para pedagang dari berbagai wilayah.

Bersamaan dengan aktivitas perdagangan tersebut, nilai-nilai agama dan budaya turut menyebar melalui interaksi antarmasyarakat.

"Rempah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai budaya dan spiritual dalam peradaban dunia. Melalui jalur perdagangan inilah hubungan antarkawasan terbentuk, dan bersama perahu serta barang dagangan ikut pula bergerak nilai-nilai agama, bahasa, etika sosial, dan tradisi keilmuan," katanya.

Ia menambahkan, proses penyebaran Islam di Papua berlangsung secara bertahap dan damai. Selain melalui hubungan perdagangan, Islam juga berkembang melalui ikatan kekeluargaan, perkawinan, pendidikan, serta dakwah yang menghormati adat istiadat masyarakat setempat.

Naharuddin menyebutkan, berdasarkan tradisi sejarah yang hidup di masyarakat Fakfak, seorang mubalig asal Aceh, Syekh Abdul Ghofar, tiba di wilayah Patimburak pada 8 Agustus 1360. Jejak dakwahnya masih dikenang melalui tradisi lisan, hubungan keturunan, hingga keberadaan situs makam yang tetap dijaga masyarakat.

Ia berharap pemahaman terhadap sejarah tersebut dapat memperkuat kesadaran masyarakat bahwa perkembangan Islam di Tanah Papua merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban yang tumbuh melalui hubungan damai, saling menghormati, dan keterbukaan antarkelompok masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....