Terbitan Surat Kabar sebelum Kemerdekaan: ketika Pers Menjadi Suara Perjuangan

  • 19 Agt 2026 06:10 WIB
  •  Manokwari
Poin Utama
  • Surat kabar sudah berkembang di Indonesia jauh sebelum Proklamasi 1945.
  • Bintang Hindia mulai terbit pada 1903 dan menggunakan bahasa Melayu.
  • Medan Prijaji terbit di Bandung pada 1907 dan menjadi salah satu tonggak penting pers pribumi.

RRI.CO.ID, Manokwari - Jauh sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, surat kabar sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di Hindia Belanda. Media cetak tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga menjadi ruang bagi kaum terpelajar dan tokoh pergerakan untuk menyampaikan gagasan, kritik, serta persoalan yang dihadapi rakyat. Dari lembaran-lembaran surat kabar inilah, kesadaran mengenai persatuan dan kebangsaan perlahan berkembang.

Dilansir dari Perpusnas, Salah satu terbitan yang cukup dikenal adalah Bintang Hindia, yang mulai terbit pada 1903 dan menggunakan bahasa Melayu. Ada pula Medan Prijaji, yang terbit di Bandung pada 1907 dan dipimpin oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo, yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pers pribumi. Kehadiran media-media tersebut menunjukkan bahwa masyarakat bumiputra mulai memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan melalui pers.

Selain nama-nama tersebut, ada pula Soeara Ra'jat yang menarik untuk diperhatikan dalam sejarah pers sebelum kemerdekaan. Katalog Perpustakaan Nasional mencatat Soeara Ra'jat terbit di Padang dan memiliki arsip terbitan tahun 1914, sementara arsip edisi 30 April 1921 menunjukkan bahwa surat kabar ini juga terbit di Semarang dan diterbitkan oleh Vereniging van Spoor-en Tramweg Personeel.

Soeara Ra'jat juga tidak sekadar menjadi lembaran berita biasa karena namanya muncul dalam berbagai kajian mengenai pergerakan sosial dan politik pada masa Hindia Belanda. Salah satu catatan akademis dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa tulisan Tan Malaka mengenai pendidikan Sarekat Islam Semarang pernah dimuat di Soeara Ra'jat dan kemudian diterbitkan sebagai brosur pada 1921. Hal ini memperlihatkan bagaimana surat kabar dapat menjadi sarana untuk menyebarkan gagasan pendidikan, sosial, dan politik kepada masyarakat.

Perkembangan pers pada masa itu tentu tidak berlangsung tanpa hambatan karena pemerintah kolonial melakukan pengawasan terhadap berbagai penerbitan. Meski begitu, surat kabar tetap berkembang dan menjadi salah satu alat penting untuk menyampaikan kritik, memperkenalkan gagasan baru, serta membangun kesadaran masyarakat mengenai persoalan bangsa. Karena itulah, pers memiliki hubungan yang erat dengan perjalanan pergerakan nasional Indonesia sebelum Proklamasi.

Menariknya, beberapa arsip surat kabar lama kini masih dapat ditemukan dalam bentuk mikrofilm maupun digital, sehingga jejak sejarah pers tersebut tidak hilang begitu saja. Arsip Soeara Ra'jat edisi 30 April 1921, misalnya, masih terdokumentasi dalam bentuk digital dan terdiri dari delapan halaman. Dari surat kabar seperti Bintang Hindia, Medan Prijaji, hingga Soeara Ra'jat, kita bisa melihat bahwa perjuangan menuju kemerdekaan juga berlangsung melalui tulisan, informasi, dan gagasan yang dibaca masyarakat pada zamannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....