Dari Hiburan Menjadi Simbol Kebersamaan

  • 08 Agt 2026 12:00 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Setiap perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, lomba panjat pinang hampir selalu menjadi pusat perhatian. Sorak-sorai penonton, peserta yang saling membantu memanjat tiang licin, hingga perjuangan meraih hadiah di puncak membuat perlombaan ini menjadi salah satu tradisi paling ikonik setiap bulan Agustus. Namun, di balik keseruannya, panjat pinang ternyata memiliki sejarah panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Menurut sejumlah catatan sejarah, panjat pinang bukan berasal dari Indonesia. Permainan serupa telah dikenal di wilayah Tiongkok bagian selatan, seperti Fujian, Guangdong, dan Taiwan sejak masa Dinasti Ming (1368–1644) dengan nama qiang gu, yang sering dikaitkan dengan perayaan Festival Hantu.

Permainan tersebut kemudian masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda. Pada era penjajahan, panjat pinang dikenal dengan istilah de klimmast atau "memanjat tiang". Orang-orang Belanda kerap menggelar permainan ini dalam berbagai acara besar seperti pesta pernikahan, ulang tahun tokoh penting, hingga perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Sayangnya, pada masa itu panjat pinang bukanlah hiburan yang setara. Pesertanya umumnya adalah masyarakat pribumi yang harus memanjat batang pinang licin untuk mendapatkan hadiah berupa makanan, pakaian, atau kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, kaum kolonial menyaksikan dari bawah sebagai hiburan. Banyak sejarawan menilai perlombaan tersebut mencerminkan ketimpangan sosial pada masa penjajahan.

Setelah Indonesia merdeka, makna panjat pinang perlahan berubah. Masyarakat tidak lagi memandangnya sebagai simbol penjajahan, melainkan sebagai ajang hiburan rakyat yang sarat nilai kebersamaan. Untuk mencapai puncak, peserta harus bekerja sama membentuk "menara manusia", saling menopang, dan tidak bisa mengandalkan kekuatan individu semata.

Nilai gotong royong inilah yang membuat panjat pinang tetap bertahan hingga sekarang. Di banyak daerah, lomba ini menjadi simbol perjuangan, kerja sama, dan semangat pantang menyerah yang sejalan dengan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Meski berasal dari masa kolonial, masyarakat Indonesia berhasil memberi makna baru pada tradisi tersebut. Dari yang dahulu menjadi tontonan penjajah, panjat pinang kini menjelma menjadi salah satu simbol kegembiraan rakyat dalam merayakan kemerdekaan.

Karena itu, setiap kali melihat peserta berjuang memanjat batang pinang yang licin, sesungguhnya kita tidak hanya menyaksikan sebuah perlombaan, tetapi juga cerminan semangat gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....