Sejarah Tiga Agama Jadi Fondasi Toleransi di Papua Barat
- 06 Agt 2026 11:00 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Momentum peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua dimanfaatkan untuk mengingatkan kembali pentingnya merawat nilai toleransi yang telah menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat Papua Barat.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat, Mulyadi Jaya, pada pembukaan rangkaian peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua bertema Merajut Toleransi, Memperkokoh Harmoni, Mengabdi untuk Pembangunan Negeri di Manokwari, Rabu, 5 Agustus 2026 menegaskan sejarah masuknya agama-agama samawi di Papua Barat menjadi bukti bahwa daerah tersebut sejak awal dibangun di atas semangat toleransi dan saling menghormati. Nilai-nilai itu, menurutnya, harus terus dijaga sebagai fondasi kehidupan masyarakat Papua yang majemuk.
Dalam sambutannya, Mulyadi menguraikan bahwa Papua Barat memiliki catatan sejarah yang unik karena menjadi tempat berlabuhnya tiga agama samawi. Ia menyebut Islam masuk ke Tanah Papua melalui Syekh Abdul Ghofar di Patimburak, Fakfak, pada 8 Agustus 1360, disusul masuknya agama Kristen melalui Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855, dan agama Katolik melalui Fakfak pada 15 Mei 1894.
Menurutnya, perjalanan sejarah tersebut menunjukkan bahwa Papua sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai agama yang berkembang secara damai tanpa menghilangkan penghormatan terhadap budaya lokal maupun kehidupan masyarakat adat.
"Sejarah ini harus kita jadikan momentum. Papua dibangun bukan di atas permusuhan antaragama, tetapi di atas semangat saling memberi ruang untuk beribadah, saling menghormati, dan saling menjaga martabat sesama manusia," ujarnya.
Mulyadi menjelaskan, dari perjalanan sejarah tersebut lahir falsafah Satu Tungku Tiga Batu yang hingga kini menjadi simbol kehidupan masyarakat Papua. Filosofi itu menggambarkan pentingnya kebersamaan antarumat beragama sebagai penyangga kehidupan sosial, sebagaimana tungku tidak dapat berdiri tanpa tiga batu penopang.
Ia menambahkan, masyarakat Papua juga mengenal konsep "agama keluarga", yakni kondisi ketika dalam satu keluarga terdapat anggota yang memeluk agama berbeda, namun tetap hidup rukun, saling menghormati, serta menjaga ikatan persaudaraan. Menurutnya, nilai tersebut menjadi kekayaan sosial yang patut dipertahankan di tengah berbagai tantangan zaman.
Mulyadi berharap peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga toleransi, merawat harmoni, serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun Papua Barat yang damai, maju, dan sejahtera.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....