Jejak Raden Ajeng Kartini dalam Membangun Budaya Literasi
- 21 Apr 2026 10:45 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Namun lebih dari sekadar perjuangan kesetaraan, Kartini juga dikenal sebagai tokoh yang menanamkan semangat literasi.
Ia percaya bahwa membaca dan menulis adalah jalan menuju kemajuan. Pemikirannya tentang pendidikan dan kebebasan berpikir masih relevan hingga hari ini, termasuk dalam gerakan literasi yang berkembang di berbagai daerah, salah satunya di Manokwari melalui keberadaan rumah baca Manokwari.
Kartini hidup di masa ketika akses pendidikan sangat terbatas, terutama bagi perempuan. Namun semangatnya untuk belajar tidak pernah padam. Kartini menjadikan buku sebagai jendela dunia. Ia membaca berbagai bacaan dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya membaca, Kartini juga menulis surat-surat yang berisi gagasan besar tentang pendidikan, kesetaraan, dan perubahan sosial. Surat-surat itulah yang kemudian dibukukan dalam karya terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang.
Pemikiran Kartini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca huruf, tetapi juga tentang keberanian berpikir kritis dan menyuarakan ide. Kartini menjadikan tulisan sebagai senjata perubahan. Dari sinilah dapat kita lihat bahwa perjuangan Kartini sesungguhnya adalah perjuangan membangun peradaban melalui pengetahuan.
Semangat Kartini ini menjadi motivasi bagi perempuan indonesia untuk berkarya dalam dunia pendidikan , Yudit Yewun Founder Rumah Baca di Manokwari, yang juga terpanggil dari hati dan juga termotivasi dari orang tua untuk turut berkontribusi bagi bangsa dengan membuka Rumah baca, Rumah baca Manokwari ini menjadi tempat yang membuka akses bagi masyarakat untuk mengenal dunia melalui buku.
Kehadiran rumah baca memberikan ruang belajar yang inklusif, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi remaja hingga orang dewasa. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, rumah baca hadir sebagai pengingat bahwa budaya membaca tetap penting untuk membentuk karakter dan kecerdasan generasi muda.
Rumah Baca Manokwari bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi menjadi pusat kegiatan literasi. Berbagai aktivitas seperti membaca bersama, kelas menulis, diskusi buku, hingga pelatihan keterampilan sering menjadi bagian dari program yang dijalankan. Aktivitas-aktivitas ini secara tidak langsung meneruskan nilai yang diperjuangkan Kartini: mencerdaskan masyarakat dan membangun kesadaran melalui ilmu pengetahuan.
Dalam konteks Papua Barat, rumah baca Manokwari memiliki peran strategis dalam meningkatkan minat baca dan memperluas wawasan anak-anak. Banyak anak di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap buku bacaan berkualitas. Oleh karena itu, rumah baca hadir sebagai solusi nyata yang mendekatkan masyarakat dengan bahan bacaan edukatif.
Anak-anak yang datang ke rumah baca tidak hanya membaca, tetapi juga belajar berkomunikasi, berbagi ide, dan membangun mimpi mereka. Jejak Kartini terlihat jelas dalam semangat para penggerak literasi di Manokwari. Mereka melanjutkan perjuangan Kartini dengan cara yang lebih modern: membuka ruang baca, menyediakan buku, dan mengajak masyarakat untuk mencintai ilmu pengetahuan. Ini adalah bentuk perjuangan masa kini yang tidak kalah penting, sebab literasi adalah fondasi kemajuan suatu bangsa.
Kartini pernah menuliskan bahwa ia ingin melihat bangsanya maju, cerdas, dan tidak tertinggal. Hari ini, harapan itu dapat diwujudkan melalui gerakan literasi yang dilakukan bersama rumah baca Manokwari . Anak-anak Manokwari yang tumbuh dengan kebiasaan membaca dan menulis adalah generasi penerus yang akan membawa perubahan besar bagi Papua barat dan Indonesia.
Melalui Rumah Baca Manokwari, semangat Kartini hidup kembali. Kartini telah membuka jalan, dan tugas generasi sekarang adalah melanjutkannya. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku, tetapi sebuah gerakan untuk membangun masa depan yang lebih terang.
Karena seperti kata Kartini, setelah gelap akan terbit terang. Dan terang itu bisa lahir dari halaman-halaman buku yang dibaca oleh anak-anak Manokwari hari ini.
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan.
Namun lebih dari sekadar perjuangan kesetaraan, Kartini juga dikenal sebagai tokoh yang menanamkan semangat bagi perempuan indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....