Mengenal Kerang Bambu, Kuliner Eksotis Nan Lezat
- 18 Apr 2026 07:06 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Pernahkah Kamu melihat kerang dengan bentuk memanjang yang sangat mirip dengan batang bambu kecil? Jika ya, Kamu sedang melihat kerang bambu atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Solen sp. Di berbagai daerah di Indonesia, biota laut ini juga kerap disebut dengan nama lorjuk atau kerang pisau (razor clam). Keberadaannya kini semakin populer di kalangan pencinta kuliner seafood karena bentuknya yang unik dan tekstur dagingnya yang berbeda dari jenis kerang pada umumnya, menjadikannya primadona baru di meja makan kelas atas maupun warung pesisir.
Secara habitat, kerang bambu memiliki cara hidup yang sangat menarik. Mereka biasanya terkubur di dalam pasir pantai yang berlumpur dan hanya akan muncul saat air laut surut. Kerang ini dikenal sangat sensitif terhadap getaran dan perubahan cahaya di sekitarnya. Untuk menangkapnya, para nelayan tradisional biasanya menggunakan cara unik, yaitu dengan menaburkan bubuk kapur atau garam ke dalam lubang persembunyian mereka. Reaksi kimia yang terjadi akan membuat kerang merasa terganggu dan secara refleks melompat keluar ke permukaan, sebuah atraksi berburu yang selalu menarik bagi wisatawan.
Keunikan kerang bambu tidak hanya berhenti pada cara menangkapnya saja. Dari sisi nutrisi, kerang ini merupakan sumber protein tinggi yang sangat baik bagi tubuh. Dagingnya mengandung berbagai mineral penting seperti zat besi, kalsium, dan fosfor, serta rendah lemak jenuh. Mengonsumsi kerang bambu secara teratur dipercaya dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menjaga kesehatan jantung. Tak heran jika saat ini banyak ahli gizi yang mulai melirik kerang bambu sebagai alternatif protein laut yang sehat dan ramah di kantong.
Dalam dunia kuliner, kerang bambu menawarkan sensasi rasa yang istimewa. Tekstur dagingnya kenyal namun lembut, dengan rasa manis alami khas sari laut yang sangat kuat. Para koki biasanya mengolah kerang ini dengan bumbu yang berani, seperti saus padang yang pedas, saus tiram yang gurih, atau sekadar ditumis dengan bawang putih dan jahe untuk mempertahankan rasa aslinya. Karena cangkangnya yang tipis, proses memasaknya pun tidak memerlukan waktu lama, sehingga nutrisi dan kesegarannya tetap terjaga hingga sampai ke piring pelanggan.
Namun, di balik kelezatannya, kelestarian kerang bambu juga mulai menjadi perhatian. Karena permintaannya yang terus meningkat di tahun 2026 ini, eksploitasi berlebihan di kawasan pesisir dikhawatirkan dapat merusak populasi alaminya. Oleh karena itu, penerapan praktik penangkapan yang berkelanjutan sangatlah penting. Nelayan diimbau untuk hanya mengambil kerang yang sudah mencapai ukuran dewasa dan menjaga kebersihan habitat pantai agar ekosistem tempat tinggal kerang bambu tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Mengenal kerang bambu membuka mata kita bahwa kekayaan laut Indonesia seolah tidak ada habisnya. Dari bentuknya yang menyerupai tanaman hingga rasanya yang mewah, kerang ini merupakan bukti nyata keanekaragaman hayati nusantara. Menikmati sepiring kerang bambu bukan hanya soal memuaskan lidah, tetapi juga tentang mengapresiasi kearifan lokal para nelayan dan kekayaan alam yang harus kita jaga bersama. Jika Kamu belum pernah mencobanya, mungkin ini saat yang tepat untuk memasukkan kerang bambu ke dalam daftar eksplorasi kuliner Kamu berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....