Misteri Cahaya Malam, Mengapa Serangga Seolah Terhipnotis Sinar UV?

  • 16 Apr 2026 21:16 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana lampu di teras rumah atau lampu jalanan selalu dikerubungi oleh ratusan serangga saat malam hari? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah perilaku biologis yang telah dipelajari oleh para ilmuwan selama dekade terakhir.

Serangga, mulai dari ngengat hingga kumbang, memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap spektrum cahaya tertentu, terutama sinar ultraviolet (UV). Ketertarikan ini sering kali berakhir fatal bagi mereka, namun di balik itu terdapat mekanisme navigasi alami yang sangat kompleks.

Alasan utama di balik fenomena ini adalah sistem navigasi serangga yang disebut dengan phototaxis. Banyak serangga nokturnal menggunakan sumber cahaya alami yang sangat jauh, seperti bulan atau bintang, sebagai kompas untuk terbang dalam garis lurus.

Karena posisi bulan yang sangat jauh, sudut cahaya yang diterima serangga tetap konstan. Namun, ketika mereka bertemu dengan lampu buatan manusia yang memancarkan sinar UV, sistem navigasi mereka "tertipu". Mereka mencoba menjaga sudut terbang yang tetap terhadap lampu tersebut, yang akhirnya justru membuat mereka terbang melingkar semakin dekat hingga menabrak sumber cahaya.

Selain urusan navigasi, banyak serangga mengandalkan sinar UV untuk menemukan sumber makanan dan pasangan. Dalam spektrum penglihatan serangga, banyak bunga memiliki pola khusus yang hanya terlihat di bawah sinar UV, yang berfungsi sebagai "rambu pendaratan" bagi penyerbuk.

Karena lampu buatan manusia sering kali memancarkan spektrum UV yang serupa dengan sinyal alami tersebut, serangga secara insting menganggap lampu tersebut sebagai sumber nutrisi atau tanda keberadaan ekosistem yang penting bagi kelangsungan hidup mereka.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa sensitivitas mata serangga terhadap sinar UV berkaitan dengan evolusi mereka untuk menghindari pemangsa. Di alam liar, cahaya UV sering kali menandakan adanya area terbuka atau celah di antara rimbunnya pepohonan yang bisa digunakan sebagai jalur pelarian.

Ketika mereka melihat lampu UV di tengah kegelapan malam, otak serangga menerjemahkannya sebagai jalan keluar menuju tempat yang lebih aman atau lebih terang, padahal kenyataannya mereka sedang menuju jebakan panas dari bohlam lampu.

Namun, ketergantungan serangga pada cahaya buatan ini kini menjadi perhatian serius bagi para konservasionis karena memicu "polusi cahaya". Banyak populasi serangga yang menurun drastis karena mereka menghabiskan seluruh energi mereka hanya untuk terbang di sekitar lampu daripada mencari makan atau bereproduksi.

Hal ini menciptakan gangguan pada rantai makanan dan ekosistem secara luas. Oleh karena itu, kini mulai dikembangkan teknologi pencahayaan yang lebih ramah lingkungan dengan mengurangi emisi spektrum UV guna menjaga keseimbangan populasi serangga nokturnal.

Memahami kenapa serangga tertarik pada sinar UV membantu kita untuk lebih bijak dalam mengatur pencahayaan di sekitar hunian. Mengganti lampu luar ruangan dengan jenis lampu LED berwarna kuning atau warm white yang minim emisi UV dapat menjadi langkah nyata untuk melindungi keanekaragaman hayati di lingkungan kita. Dengan sedikit perubahan pada kebiasaan manusia, kita bisa membantu serangga-serangga ini kembali ke jalur navigasi alami mereka dan menjaga ekosistem tetap berjalan sebagaimana mestinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....