Manokwari Tetap Kondusif saat Imlek, Rabu Abu, dan Ramadan Beriringan
- 18 Feb 2026 16:45 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Umat Islam di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis 19 Februari 2026, sehari setelah umat Katolik melaksanakan ritual Rabu Abu dan sehari sebelumnya warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Tiga peringatan besar keagamaan yang berlangsung berurutan pada pekan ketiga Februari 2026 tersebut berjalan dalam suasana damai, aman dan penuh kebersamaan, khususnya di Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Pastor Philipus Sedik, OSA, pada Rabu 18 Februari 2026 menyampaikan apresiasi atas tingginya semangat toleransi antarumat beragama di daerah ini.
“Kami bersyukur karena sejak lama masyarakat Papua Barat, khususnya Manokwari, hidup dalam sikap saling menghormati dan menghargai antarumat beragama. Ini menjadi modal utama dalam membangun Papua Barat yang damai dan bermartabat,” ujar Pastor Philipus kepada RRI.
Sebelumnya, warga Tionghoa di Manokwari merayakan Tahun Baru Imlek dengan berbagai kegiatan, termasuk pertunjukan barongsai di sejumlah pusat perbelanjaan yang turut menjadi tontonan masyarakat lintas agama. Perayaan Imlek menjadi momentum istimewa untuk berkumpul bersama keluarga, menghormati leluhur, membersihkan rumah, bersilaturahmi, berbagi angpao, serta menampilkan lampion dan barongsai sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan.
Sementara itu, umat Katolik memulai masa Prapaskah melalui ritual Rabu Abu. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma, Rabu Abu menjadi tanda pertobatan yang ditandai dengan penerimaan abu di dahi sebagai simbol kesadaran akan pertobatan, kesederhanaan, dan kefanaan hidup. Abu yang digunakan umumnya berasal dari daun palma yang dibakar dari perayaan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, umat Islam meyakini bahwa ibadah puasa Ramadan menjadi momentum penyucian diri. Setelah menjalani berbagai tantangan dan pengendalian diri selama sebulan penuh, umat Islam berharap dapat meraih kemenangan saat Idulfitri, sekaligus memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Pastor Philipus juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga suasana harmonis tersebut.
“Harapan kami, mari kita terus menjaga kebersihan hati dan menghormati kesucian umat yang menjalankan ibadah masing-masing. Toleransi yang sudah terbangun ini harus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai wujud persatuan kita sebagai bangsa Indonesia,” katanya.
Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari perayaan Imlek, Rabu Abu, hingga awal Ramadan, berlangsung lancar tanpa gangguan. Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa kehidupan antarumat beragama di Manokwari tetap terjaga dalam bingkai persaudaraan dan kebhinekaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....