Generasi Muda harus Optimis untuk Meraih Masa Depan

  • 18 Feb 2026 07:50 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Anak muda memiliki potensi besar dengan mimpi dan rencana untuk masa depan, di mana keberanian, kerja keras, dan konsistensi menjadi kunci mewujudkannya. Langkah kecil, kreativitas, serta keluar dari zona nyaman sangat penting agar impian tidak sekadar menjadi khayalan. Hal tersebut menjadi pembahasan bersama Christina Recharda Rusianti Duta GenRe Putri Provinsi Papua Barat dan Wira Jaya Silaban, Duta GenRe Putra Provinsi Papua Barat pada Program Bisik PaDuta dengan topik " Anak Muda Punya Mimpi, punya rencana, Selasa, 17 Februari 2026 bersama Produa Manokwari.

Wira mengatakan masa muda adalah waktu terbaik untuk menetapkan tujuan, mencari mentor, dan berani mengambil risiko demi mencapai kesuksesan. Mengembangkan potensi diri remaja dapat dilakukan dengan mengenali minat/bakat melalui eksplorasi berbagai kegiatan (ekstrakurikuler, hobi), menetapkan tujuan hidup yang jelas (jangka pendek/panjang), serta membangun kebiasaan positif seperti membaca dan disiplin waktu. Remaja perlu keluar dari zona nyaman, berani mengambil risiko, belajar dari kegagalan, dan bergaul di lingkungan suportif untuk mengasah soft skills serta meningkatkan kepercayaan diri.

Menentukan tujuan itu penting, terutama bagi remaja yang sedang mencari arah hidup. Tanpa tujuan, langkah bisa terasa ragu dan mudah teralihkan. Dengan memiliki tujuan, remaja tidak hanya lebih termotivasi, tetapi juga belajar fokus, bertanggung jawab, dan percaya diri ." Ujar Christina.

Ditambahkan oleh Wira jangan pernah merasa cepat puas dengan pencapaian saat ini dan selalu tanamkan rasa "tidak tahu" (lapar ilmu) agar terus berkembang dan tidak stagnan. Sikap cepat puas adalah musuh kemajuan yang membatasi potensi, sedangkan merasa bodoh memacu diri untuk terus belajar, berinovasi, dan tidak arogan.

Mengembangkan pengaruh negatif pada remaja sering kali berakar dari lingkungan yang tidak suportif, kurangnya pengawasan, dan pergaulan yang salah. Faktor utamanya meliputi kurangnya komunikasi terbuka dengan orang tua, pengaruh media sosial tanpa edukasi, lingkungan pertemanan toksik, serta tidak adanya batasan perilaku yang jelas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....