Cerita dibalik Lezatnya Tinutuan Buburnya Masyarakat Manado

  • 19 Jan 2026 17:21 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki kuliner bubur khasnya tersendiri. Jakarta memiliki bubur ase, Cirebon memiliki bubur ayam, Aceh mempunyai bubur kanji rumbi, Maluku memiliki bubur sagu ubi, sementara Kalimantan memiliki bubur pedas. Tentu saja, tak ketinggalan Sulawesi Utara yang mempunyai bubur Manado.

Tinutuan atau bubur Manado bisa menjadi salah satu pilihan menu makanan yang sehat untuk sarapan. Hal itu karena menu sehat ini menggunakan banyak campuran sayuran hijau dan labu yang kaya nutrisi.

Bubur Manado yang lembut dan hangat ini nyaman di perut dan mudah dicerna, serta bisa memberi kamu pasokan energi di pagi hari.

Dikutip dari Indonesia Kaya, seperti kebanyakan santapan nusantara yang berasal dari kreativitas masyarakat dengan strata ekonomi terbelakang, tinutuan juga mempunyai sejarah serupa. Tinutuan lahir dari kreativitas masyarakat Minahasa yang hidup berdampingan dengan alam.

Pada waktu itu, beras adalah sumber karbohidrat yang mewah, karena harus dibeli untuk memilikinya. Beras lantas dicampur dengan bahan-bahan lain seperti ubi, jagung, dan sayur-sayuran yang berasal dari halaman sekitar rumah untuk dijadikan olahan bubur.

Orang-orang Minahasa menganggap dirinya sebagai bagian yang dekat dan terikat dengan alam, seperti halnya nenek moyang mereka. Mereka terbiasa menggunakan bahan makanan yang diperoleh secara langsung dari alam, seperti sayur-sayuran, jagung, beras, dan umbi-umbian.

Seiring pertambahan penduduk di Sulawesi Utara, kota Manado menjadi kian ramai. Orang-orang dari berbagai daerah di Sulawesi Utara datang ke kota ini dengan membawa kebiasaannya masing-masing dari pedalaman. Salah satunya adalah kebiasaan membuat tinutuan, dan inilah asal mula munculnya nama bubur Manado.

Dalam Minahasa di awal Perang Kemerdekaan, sejarawan R.Z. Leirissa menyoroti peran zending atau penyebar agama Kristen yang datang pada awal abad ke-19. Menurutnya, bubur Manado merupakan kreasi dari para zending.

Konon, karena makanan adalah salah satu cara untuk mempererat hubungan, maka para zending berusaha mencari resep makanan yang sesuai untuk disajikan kepada masyarakat setempat. Makanan tersebut tidak boleh melanggar kebiasaan lokal atau bertentangan dengan selera penduduk yang terbiasa dengan rasa pedas dari cabai. Oleh karena itu, para zending menciptakan bubur dengan rebusan sayuran dan cita rasa pedas.

Bubur Manado yang banyak menggunakan sayur-sayuran bisa menjadi pilihan sehat untuk sarapan. Selain enak, makanan ini juga kaya nutrisi, sehingga bisa memberi banyak manfaat kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....