Apa Itu Stigma? Memahami Label Negatif dalam Masyarakat
- 12 Agt 2026 10:48 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Stigma adalah pandangan, label, atau penilaian negatif yang dilekatkan kepada seseorang atau kelompok karena dianggap memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dari norma yang berlaku di masyarakat demikian dikutip dari laman dictionary.apa.org Stigma dapat muncul dalam bentuk anggapan, stereotip, penolakan, pengucilan, hingga perlakuan yang tidak adil. Menurut American Psychological Association (APA), stigma merupakan sikap sosial negatif terhadap karakteristik seseorang yang dianggap sebagai kekurangan dan dapat berujung pada diskriminasi serta pengucilan.
Bagaimana Stigma Bisa Terbentuk?
Stigma biasanya berkembang ketika masyarakat memiliki informasi yang terbatas, kemudian membuat penilaian berdasarkan asumsi atau stereotip. Rasa takut, ketidaktahuan, pengalaman tertentu, maupun informasi yang keliru dapat memperkuat pandangan negatif terhadap seseorang atau kelompok.Dilansir dari laman www.who.int WHO menjelaskan bahwa seseorang bahkan dapat melakukan stigmatisasi tanpa menyadari bahwa penilaian atau bias yang dimilikinya dapat berdampak buruk kepada orang lain.
Stigma dapat terjadi dalam berbagai situasi. Misalnya, seseorang yang pernah menjalani hukuman dianggap pasti akan melakukan kejahatan lagi, seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu dianggap tidak mampu menjalani kehidupan normal, atau seseorang yang memiliki kondisi berbeda langsung dijauhi oleh lingkungan. Stigma tidak selalu muncul dalam bentuk ucapan kasar; sikap menghindari, memberikan label, atau memperlakukan seseorang secara berbeda juga dapat menjadi bagian dari proses stigmatisasi.Dikutip dari laman www.kemkes.go.id Kementerian Kesehatan RI, misalnya, mencatat bahwa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa dapat berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hubungan keluarga, serta kehidupan sosial.
Stigma Berbeda Dengan Diskriminasi
Stigma dan diskriminasi merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak sama. Stigma lebih berkaitan dengan label, pandangan, keyakinan, atau sikap negatif, sedangkan diskriminasi merupakan tindakan atau perlakuan yang muncul akibat.
Ada Stigma Dari Masyarakat dan Dari Diri Sendiri
Stigma tidak hanya berasal dari lingkungan. Seseorang juga dapat menerima label negatif tersebut dan kemudian mempercayainya sebagai gambaran tentang dirinya sendiri. Kondisi ini dikenal sebagai self-stigma atau stigma yang terinternalisasi. Literatur yang digunakan dalam pedoman WHO menjelaskan bahwa stigma dapat muncul sebagai stigma sosial, perlakuan diskriminatif, maupun stigma yang diinternalisasi oleh individu.
| Baca juga: Bisa Nyetir, tapi Tidak Paham Marka Jalan |
Apa Dampak Stigma?
Stigma dapat membuat seseorang merasa malu, rendah diri, takut berinteraksi, menarik diri dari lingkungan, atau enggan mencari bantuan. Dalam konteks kesehatan, WHO menyatakan bahwa stigma dan diskriminasi dapat membuat seseorang enggan mencari informasi, pemeriksaan, atau perawatan sehingga akhirnya dapat memperburuk dampak yang dihadapi.
Bagaimana Cara Mengurangi Stigma?
Cara sederhana untuk mengurangi stigma adalah meningkatkan pengetahuan, memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, menghindari penggunaan kata-kata yang merendahkan, serta memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan dirinya sendiri. WHO juga menekankan pentingnya menyadari adanya bias yang tidak disadari dan menghindari tindakan diskriminatif yang dapat muncul dari bias tersebut.
Mengapa Stigma Harus Dihentikan?
Menghilangkan stigma bukan berarti kita harus mengabaikan perbedaan, risiko, atau fakta yang ada. Yang perlu dihindari adalah memberikan penilaian menyeluruh kepada seseorang hanya berdasarkan satu kondisi atau pengalaman tertentu. Seseorang seharusnya dinilai berdasarkan perilaku dan tindakannya, bukan semata-mata berdasarkan label yang diberikan oleh masyarakat.
Penutup
Stigma adalah label yang dapat membuat seseorang dinilai hanya berdasarkan satu sisi kehidupannya. Padahal, setiap manusia memiliki cerita, proses, kekurangan, dan kesempatan untuk berubah. Karena itu, masyarakat perlu belajar membedakan antara menilai sebuah tindakan dan menghakimi seseorang sebagai manusia.
Mengurangi stigma bukan berarti membenarkan kesalahan seseorang. Mengurangi stigma berarti memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk diperlakukan secara manusiawi, mendapatkan kesempatan yang adil, dan membuktikan dirinya melalui tindakan nyata.
Jangan biarkan satu label menentukan seluruh kehidupan seseorang. Karena manusia lebih besar daripada stigma yang diberikan kepadanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....