Menjaga Asa di Laut Sulut: Transformasi ASDP untuk Nusa Utara
- 29 Sep 2026 20:40 WIB
- Manado
Poin Utama
- Kehadiran sistem tiket digital Ferizy di Pelabuhan Bitung memastikan manifest penumpang dan kendaraan terdata by name by address H-60 sebelum keberangkatan, sekaligus menyortir muatan barang berbahaya (B3).
- Keandalan armada ASDP di 3 lintasan utama (Ternate, Melonguane, Tobelo) memegang peran vital menekan disparitas harga kebutuhan pokok serta menggerakkan sektor perikanan dan pariwisata lokal di kawasan timur Indonesia.
- Pentingnya sinergi antara regulasi ketat Syahbandar, audit rutin kelaiklautan BKI, simulasi darurat (drill) bulanan awak kapal, dan kesadaran mandiri masyarakat dalam membeli tiket resmi.
RRI.CO.ID, Manado — Di mata masyarakat Kepulauan Sulawesi Utara, pelayaran kapal bukan sekadar perjalanan antar-dermaga, melainkan urat nadi kehidupan yang menyambungkan ekonomi, keluarga, dan harapan. Namun di balik riak gelombang laut perbatasan, jaminan keselamatan selalu menjadi kerinduan utama para pengguna jasa.
Novianne Tairas, warga yang rutin menyeberang pada rute Talaud–Manado bersama dua buah hatinya, menuturkan betapa krusialnya rasa aman dan keteraturan di atas kapal penyeberangan.
"Sebagai penumpang, apalagi yang membawa anak-anak kecil dan tidak bisa berenang, rasa aman di atas kapal itu segalanya. Kita ingin ada kepastian bahwa alat keselamatan siap, kapasitas penumpang tidak berlebih, dan data diri kita terdata dengan benar," ungkap Novianne saat ditemui di Manado pada Kamis, 10 September 2026.
Aspirasi Novianne mewakili suara ribuan penumpang di kawasan Nusa Utara. Kerinduan akan rasa aman ini direspons langsung oleh para pelaksana di lapangan, di mana kesiapan fisik armada dan ketangkasan awak kapal (crew) menjadi benteng pertahanan pertama saat kapal membelah lautan.
Dari Dapur Kapal: Menjawab Kepanikan dengan Latihan Bulanan
Menanggapi harapan penumpang akan jaminan keselamatan, Mualim 1 KM Glory 1, Erens, menegaskan bahwa kepastian keselamatan tidak datang secara mendadak saat darurat terjadi, melainkan dibentuk dari kedisiplinan mitigasi di atas gelombang.
"Apa yang dicemaskan penumpang seperti kepanikan di atas kapal, kuncinya ada di drill atau simulasi yang rutin kami lakukan setiap bulan. Kebakaran atau keadaan darurat tidak memandang siapa yang bertugas. Semua ABK harus paham cara mengoperasikan APAR dan mengarahkan evakuasi," ujar Erens saat ditemui pada Senin, 7 September 2026.
Erens menambahkan bahwa kesiapan ABK harus ditopang oleh kesadaran penumpang itu sendiri, mulai dari mematuhi larangan merokok hingga memahami jalur evakuasi (route escape). Namun, kesiapan di atas kapal ini tidak akan berdiri kokoh tanpa adanya pengawasan dan penegakan hukum yang tegas dari pihak regulator sebelum kapal diizinkan melepas tali tambat.
Ketegasan Regulator: Mengunci Celah Risiko Sebelum Berlayar
Sinergi keselamatan tersebut dikunci rapat oleh Otoritas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado. Regulator memastikan bahwa kekhawatiran penumpang seperti ketidaksesuaian daftar penumpang (manifest) maupun kelalaian simulasi ABK tidak lolos dari pengawasan darat.
Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli KSOP Manado, Benaya Samri Yostavia, menjelaskan bahwa pengetatan validasi manifest kini terintegrasi secara ketat.
"Setiap pengajuan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) by system wajib melampirkan manifest penumpang. Petugas kami mencocokkan aktualisasi di lapangan agar jangan sampai ada kelebihan kapasitas daya angkut," tegas Benaya, yang bertugas di KSOP Manado sejak Oktober 2024.
Benaya menambahkan bahwa KSOP juga memeriksa buku jurnal (logbook) bulanan kapal untuk memastikan latihan keadaan darurat yang disebutkan Erens benar-benar dijalankan oleh awak kapal. Jika syarat kelaiklautan tidak terpenuhi atau BMKG merilis peringatan cuaca ekstrem, KSOP tak ragu menunda keberangkatan demi melindungi nyawa penumpang seperti Novianne.
Transformasi Digital ASDP: Jawaban Holistik untuk Keselamatan dan Konektivitas
Di titik inilah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) masuk menyempurnakan mata rantai keselamatan dan pelayanan maritim tersebut. Menjawab ketegasan regulator serta kerinduan masyarakat akan kepastian data manifest dan percaloan, ASDP menghadirkan lompatan transformasi digital di Pelabuhan Bitung.


Melalui kebijakan yang diluncurkan pada Kamis, 6 November 2025 lalu, ASDP resmi memperluas layanan pemesanan tiket online Ferizy untuk tiga lintasan vital: Bitung–Ternate, Bitung–Melonguane, dan Bitung–Tobelo.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, dalam keterangan resminya pada rilis perusahaan tertulis menegaskan bahwa penerapan Ferizy secara langsung menjawab kebutuhan transparansi data yang dituntut oleh regulator dan masyarakat.
"Dengan Ferizy, masyarakat bisa membeli tiket dari mana saja tanpa perlu antre di pelabuhan. Pendataan menjadi lebih akurat by name by address, dan pelayanan di lapangan berlangsung lebih tertata," jelas Heru.
Manfaat integrasi sistem ini dibuktikan dengan volume layanan yang masif. Dalam kurun Januari hingga Oktober 2025, Pelabuhan Bitung mencatat mobilisasi 22.029 penumpang dan 19.234 kendaraan, termasuk 12.520 truk penyuplai pasokan bahan pokok perbatasan. Secara nasional, pengguna Ferizy hingga Agustus 2025 melonjak hingga 3,23 juta akun.
General Manager ASDP Bitung, Fauzie Akhmad, menegaskan dalam wawancara pada Senin, 7 September 2026 bahwa digitalisasi Ferizy menjadi instrumen utama dalam menjalankan standar 3S: Safety, Security, and Services.

"Nyawa manusia sangat berharga dan tidak bisa ditawar. Dengan Ferizy, data penumpang terdata presisi. Bahkan jika ada kendaraan membawa barang berbahaya (B3) yang berpotensi memicu kebakaran di laut, sistem dan tim kami di lapangan langsung menyortir dan memberi perlakuan khusus," tegas Fauzie, menyambung kekhawatiran mitigasi kebakaran yang diutarakan ABK dan regulator.
Menatap Masa Depan Pelayaran Nusa Utara

Sinergi empat pilar ini—kesadaran pengguna jasa, ketangkasan ABK di atas kapal, ketegasan regulator Syahbandar, serta transformasi sistem digital ASDP—kini membuahkan senyum baru di dermaga-dermaga Sulawesi Utara.
"Untuk keamanan katanya sudah mulai banyak berubah noh for transportasi kapal laut. Kalau dulu tidak ada pelampung di tiap kamar, sekarang pelampung so di mana-mana. Terus penumpang juga so tidak over capacity, so mulai lebih teliti dan semua so mesti ada tiket," ungkap Novianne, mengapresiasi perubahan positif yang dirasakannya saat berlayar kembali.
Ketersediaan fasilitas keselamatan yang disiplin dan kepastian layanan penyeberangan membuat Novianne tak lagi cemas saat memboyong buah hatinya menyeberangi lautan.
Pada akhirnya, digitalisasi Ferizy dan keandalan armada ASDP tidak hanya memangkas celah bahaya di laut, tetapi juga menggerakkan komoditas lokal seperti perikanan cakalang dan kelapa, serta membuka akses pariwisata perbatasan. Lewat kolaborasi penuh dan kepedulian pada setiap jiwa, pelayaran Sulawesi Utara kini menatap masa depan yang jauh lebih cerah: menautkan pulau-pulau Nusa Utara dengan aman, nyaman, dan penuh kepastian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....