Inflasi Sulut Tembus 3,99 Persen, Cabai Rawit Jadi Pemicu Utama

  • 02 Sep 2026 18:16 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sulawesi Utara mengalami inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,99 persen. Lonjakan inflasi ini didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas utama, terutama cabai rawit, emas, hingga tarif transportasi udara.

Kondisi cuaca panas dan musim kemarau panjang menjadi pemicu merosotnya hasil panen pangan, sehingga pasokan daerah berkurang. Selain sektor pangan, sektor penerbangan juga memberikan andil inflasi pascalibur sekolah.

Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menjelaskan penyesuaian tarif penerbangan terjadi seiring berakhirnya masa diskon maskapai.

"Kemudian ada kenaikan harga angkutan udara seiring dengan berakhirnya periode promosi selama libur sekolah," ujar Watekhi, saat Rilis BRS, Selasa, 1 September 2026.

Ia menambahkan, pergerakan penumpang pascaliburan turut mendorong normalisasi tarif tiket pesawat di pasaran.

"Meningkatnya permintaan pada periode arus balik mendorong penyesuaian tarif tiket menuju tingkat normal," ujarnya.

Menanggapi lonjakan harga komoditas pangan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memberikan perhatian khusus pada cabai rawit yang menjadi konsumsi harian masyarakat lokal.

Kepala Biro Ekonomi Setdaprov Sulut, Reza Dotulong, membeberkan bahwa komoditas ini memiliki pengaruh besar terhadap indeks harga konsumen di daerah.

"Untuk cabai rawit memang menjadi komoditas yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Angka bobot perhitungan inflasi ini sangat besar," kata Reza.

Guna menekan tingginya harga di pasaran, Pemprov Sulut berkolaborasi dengan Bank Indonesia untuk menyerap langsung hasil panen dari para petani lokal.

"Sehingga untuk komoditas cabai rawit, kita bersama Bank Indonesia memiliki kelompok tani binaan. Hasil-hasil dari poktan binaan ini kita coba serap dan masukkan ke pasar-pasar dengan harga yang lebih murah," ujarnya.

Pemerintah daerah memastikan langkah intervensi ini terus berjalan optimal demi menjaga stabilitas harga bahan pokok dan menekan laju inflasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....