ketika Sekolah Rakyat Membuat Herlina Berani Bermimpi

  • 23 Jun 2026 13:38 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Bagi Herlina Natalia Mamahit, makan tiga kali sehari bukanlah hal yang selalu ia kenal sejak kecil. Siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 21 Manado ini tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas, hingga pernah terbiasa menjalani hari hanya dengan satu kali makan, atau dua kali jika keadaan memungkinkan.

Herlina, yang tinggal di Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Manado, lahir pada 6 Desember 2012. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas sekaligus pengemudi ojek untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dengan penghasilan yang tidak menentu dari hari ke hari.

“Kalau di rumah biasanya makan satu kali sehari, kalau ada rezeki dua kali sehari,” kata Herlina.

Kondisi tersebut membuat kehidupan keluarga mereka berjalan dalam keterbatasan. Namun, titik balik mulai datang ketika Herlina diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 21 Manado, sebuah sekolah berasrama yang seluruh kebutuhan siswanya ditanggung oleh negara.

Hidup Baru di Asrama

Bagi Herlina, pengalaman tinggal di asrama menjadi hal yang benar-benar baru. Untuk pertama kalinya, ia merasakan keteraturan makan tiga kali sehari, fasilitas belajar yang memadai, serta lingkungan yang mendukung perkembangan dirinya.

“Saya senang bersekolah di Sekolah Rakyat karena fasilitasnya lebih bagus daripada di rumah. Di sekolah makan tiga kali sehari, jadi berbeda dengan di rumah,” ujarnya.

Kegiatan makan siang siswa SRMP 21 Manado di ruang makan. (Foto: RRI/ Noni).

Tidak hanya kebutuhan dasar yang terpenuhi, Herlina juga mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Ia mengaku pada awal masuk sekolah masih merasa malu dan sulit beradaptasi dengan teman-teman baru.

“Waktu awal saya masuk, saya masih malu-malu dan belum bisa berkenalan dengan teman-teman. Sekarang saya lebih percaya diri dan sudah lebih akrab,” katanya.

Perubahan yang Terlihat dari Rumah

Perubahan itu juga dirasakan oleh ibunya, Herlin Kasehung. Ia menyebut perkembangan akademik putrinya meningkat sejak mengikuti pendidikan di SRMP 21 Manado.

“Kalau dulu dia belum bisa lancar belajar, tapi sekarang puji Tuhan lebih baik, bisa belajar dengan baik dan mata pelajaran lain juga meningkat,” ujar Herlin.

Menurut pihak sekolah, perubahan seperti ini bukan hanya terjadi pada Herlina, tetapi juga banyak siswa lain yang berasal dari keluarga kategori desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Proses kegiatan belajar mengajar siswa di SRMP 21 Manado dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. (Foto: RRI/ Noni).

Kepala SRMP 21 Manado, Fenny Meivi Sarah Kilikily, mengatakan banyak siswa datang dengan rasa rendah diri akibat kondisi ekonomi keluarga.

“Anak-anak yang berasal dari desil 1 dan 2 kadang memiliki pemikiran, ‘Saya orang miskin, saya orang susah’. Tetapi ketika mereka diberi kesempatan dan mulai berprestasi, mereka mulai percaya diri,” ujarnya.

Selama hampir 10 bulan pendampingan, ia melihat perubahan signifikan tidak hanya pada akademik, tetapi juga karakter, disiplin, dan kebiasaan sehari-hari siswa.

Paduan suara Siswa SMP 21 Manado tampil memukau dalam Kegiatan Open House Sekolah Rakyat, Dialog Mensos Saifullah Yusuf bersama Calon Siswa dan Orang Tua Sekolah Rakyat, di Sentra Tumou Tou Manado, Kamis, 11 Juni 2026. (Foto: RRI/ Noni).

“Awalnya banyak anak belum terbiasa bangun pagi dan belum terbiasa diatur. Tetapi perlahan mereka berubah. Mereka mulai disiplin, beribadah, dan lebih semangat belajar,” katanya.

Sekolah Berasrama dan Misi Memutus Kemiskinan

Konsep sekolah berasrama memungkinkan siswa mendapatkan pendampingan selama 24 jam. Seluruh kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, seragam, dan perlengkapan belajar dipenuhi oleh negara, termasuk berbagai kegiatan pengembangan bakat.

“Labelnya memang Sekolah Rakyat, tetapi fasilitas dan pendidikan yang diberikan seperti sekolah unggulan. Semua anak mendapat perlakuan yang sama,” kata Fenny.

Siswa SRMP 21 Manado tampak sedang baris berbaris untuk menyambut Mensos RI, Saifullah Yusuf, di Sentra Tumou Tou Manado, Kamis, 11 Juni 2026. (Foto: RRI/ Noni).

Program ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang disampaikan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang menegaskan bahwa Sekolah Rakyat hadir untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem.

“Hasil pembelajaran sudah mulai terlihat. Anak-anak lebih percaya diri, lebih bugar, lebih optimistis, dan memiliki harapan serta semangat meraih cita-cita,” ujarnya.

Cita-Cita dari Sebuah Perubahan

Di balik semua perubahan itu, Herlina menyimpan satu mimpi besar menjadi dokter anak. Sebuah cita-cita yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, namun menjadi sangat berarti bagi seorang anak yang dulu terbiasa hidup dalam keterbatasan.

Herlina Natalia Mamahit memeluk Ibunya Herlin Kasuheng. (Foto: RRI/ Noni).

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Dari Ranomuut, dari rumah sederhana dengan penghasilan tak menentu, langkah Herlina kini mulai bergerak menuju masa depan yang berbeda. Sekolah menjadi titik awal perubahan, dan pendidikan menjadi jembatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini membatasi hidupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....