BMKG: Aktivitas Sesar Palu-Koro dan Taifun Sinlaku Picu Dinamika Cuaca di Sulut
- 17 Apr 2026 09:52 WIB
- Manado
Poin Utama
- Wilayah Sulawesi berada di pertemuan lempeng besar dunia dan dilintasi Sesar Palu-Koro, sehingga memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi, meski gempa kecil umumnya tidak berpotensi tsunami.
- Taifun Sinlaku memiliki tekanan 960 hPa dan kecepatan angin 75 knot, bergerak ke barat daya dan diperkirakan melemah dalam 48–72 jam ke depan.
- Tarikan massa udara akibat taifun memicu shearline di sekitar Laut Sulawesi, meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menyebabkan hujan, terutama siang hingga sore hari.
RRI.CO.ID, Manado – Prakirawan Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Ika Ainun Tajalla, mengungkapkan wilayah Sulawesi dan sekitarnya merupakan kawasan yang rawan aktivitas gempa karena berada di zona tektonik aktif. Menurutnya, keberadaan Sesar Palu-Koro menjadi salah satu faktor utama tingginya aktivitas seismik di kawasan tersebut.
“Wilayah Sulawesi berada di pertemuan beberapa lempeng besar dunia, sehingga kondisi ini membuat kawasan tersebut rawan gempa,” ujarnya Jumat, 17 April 2026.

Ia menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir memang terjadi peningkatan aktivitas gempa. Namun demikian, gempa dengan magnitudo kecil umumnya tidak berpotensi memicu tsunami. “Gempa-gempa bermagnitudo kecil kemungkinan tidak menimbulkan tsunami,” tambahnya.
Selain itu, Ika juga memaparkan perkembangan Taifun Sinlaku yang saat ini berada di Samudera Pasifik, sebelah timur Filipina. Topan tersebut tercatat berada pada kategori 4 dengan tekanan pusat sekitar 960 hPa dan kecepatan angin mencapai 75 knot.
“Taifun Sinlaku bergerak ke arah barat daya dan dalam 48 hingga 72 jam ke depan kecepatannya diperkirakan akan menurun,” jelasnya.
Meski tidak berdampak langsung, keberadaan taifun ini dapat memengaruhi kondisi cuaca di Sulawesi Utara. Salah satunya melalui peningkatan aktivitas awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan, terutama pada siang hingga sore hari.
Ia menambahkan, fenomena ini terjadi karena adanya tarikan massa udara ke arah pusat siklon. Dampaknya, terbentuk belokan angin atau shearline di sekitar Laut Sulawesi dan wilayah Sulawesi Utara yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serta terus memantau informasi resmi terkait perkembangan cuaca dan aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....