Perbaikan Jalan Arteri Kunci Mudik Lebaran 2026

  • 25 Feb 2026 15:51 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Menghadapi arus mudik Lebaran 2026, pemerintah diminta tidak hanya berfokus pada pembangunan dan pengoperasian jalan tol. Perbaikan dan peningkatan kualitas jalan arteri dinilai sama pentingnya agar pemudik memiliki alternatif jalur yang aman dan nyaman tanpa harus memaksakan diri masuk tol.

Berdasarkan Survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan 2026, potensi pergerakan masyarakat saat Lebaran tahun ini diprediksi mencapai 143,9 juta orang. Angka tersebut turun tipis dibandingkan 2025 yang mencatat 146 juta orang. Mayoritas masyarakat melakukan perjalanan untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman sebanyak 95,27 juta orang (66,2 persen), disusul tradisi mengunjungi orang tua atau sanak saudara 27,78 juta orang (19,3 persen).

Sementara itu, masyarakat yang tidak bepergian ke luar kota memilih berlibur di dalam kota (34,40 juta orang atau 23,9 persen) serta terkendala biaya (32,96 juta orang atau 22,9 persen).

Dari sisi moda transportasi, mobil pribadi masih menjadi pilihan utama dengan 76,24 juta orang (52,98 persen). Untuk transportasi umum, bus menjadi moda terpopuler yang digunakan 23,34 juta orang (16,22 persen). Sebanyak 50,63 juta pengguna mobil (66,40 persen) memilih melintas di jalan tol, sehingga potensi kemacetan sulit dihindari.

Ruas terpadat diperkirakan terjadi di Jalan Tol Jakarta–Cikampek dengan proporsi 16,30 persen atau sekitar 8,25 juta kendaraan. Kepadatan juga membayangi Jakarta–Cikampek II Elevated (Layang MBZ) sebesar 15,10 persen (7,64 juta) serta Tol Dalam Kota Jakarta sebanyak 14,20 persen (7,19 juta).

Sejak 2019, Tol Trans-Jawa tetap menjadi primadona karena dinilai sebagai jalur tercepat. Namun, lonjakan volume kendaraan saat Lebaran kerap melampaui kapasitas desain, termasuk di rest area yang sejatinya dirancang untuk kondisi normal.

Data 2026 dari PT Jasa Marga mencatat tambahan jalan tol fungsional sepanjang 120,76 kilometer di empat titik. Penambahan terbesar berasal dari Tol Jakarta–Cikampek II Selatan sepanjang 54,75 km dan Tol Probolinggo–Banyuwangi 49,68 km. Dua ruas lain yang akan dioperasikan berada di wilayah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, yakni Tol Jogja–Solo segmen Prambanan–Purwomartani (11,48 km) serta Tol Jogja–Bawen segmen Ambarawa–Bawen (4,85 km).

Meski demikian, pengamat transportasi sekaligus Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat, Djoko Setijowarno, menilai solusi mudik tak cukup hanya dengan menambah ruas tol.

“Pemerintah tidak boleh hanya terpaku pada jalan tol. Jalan arteri harus dibenahi agar pemudik memiliki pilihan jalur alternatif yang setara dari sisi keamanan dan kenyamanan. Jika semua orang diarahkan ke tol, kepadatan ekstrem tidak terhindarkan,” ujarnya.

Djoko juga mengingatkan pentingnya evaluasi kebijakan rekayasa lalu lintas satu arah (one way) dan contraflow, terutama dampaknya terhadap pergerakan bus antarkota. Menurutnya, armada bus harus tetap dapat kembali ke Jakarta tepat waktu untuk mengangkut gelombang pemudik berikutnya.

Belajar dari kecelakaan di KM 58 pada mudik Lebaran 2024 yang menewaskan 12 orang, sosialisasi teknis pelaksanaan contraflow perlu dilakukan secara masif. “Pengemudi wajib dalam kondisi fit, menjaga kecepatan maksimal 60 kilometer per jam, tetap di lajur kiri kecuali mendahului, serta disiplin menjaga jarak,” tegasnya.

Selain itu, pembatas jalan di jalur contraflow perlu dipasang lebih rapat dari sebelumnya 30 meter menjadi setiap 10 meter. Dukungan mobil pengaman (safety car), mobil derek gratis hingga pintu keluar terdekat, serta armada pemadam kebakaran juga harus disiagakan.

Djoko menambahkan, perbaikan jalan arteri seperti Jalur Pantura dan Jalur Pansel dapat menjadi solusi strategis. Pada momen tertentu, jalur tersebut justru menawarkan waktu tempuh lebih terukur tanpa terjebak antrean panjang rest area.

Ia juga mendorong Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) memperkuat fasilitas rest area dengan penambahan toilet, khususnya bagi perempuan, serta pembangunan rest area darurat yang berfokus pada sanitasi dasar. Informasi fasilitas di luar gerbang tol, seperti rumah makan dan SPBU, juga perlu terintegrasi secara real-time dalam aplikasi Travoy guna mencegah pemudik beristirahat di bahu jalan.

“Sinergi BUJT dan pemerintah daerah penting agar tersedia kantong istirahat di luar tol dekat gerbang keluar. Bahu jalan bukan tempat beristirahat, melainkan jalur darurat,” pungkasnya.

Dengan lonjakan pergerakan lebih dari 143 juta orang, pengendalian arus lalu lintas dan keselamatan menjadi prioritas utama. Perbaikan jalan arteri, manajemen lalu lintas yang matang, serta disiplin pengemudi diyakini menjadi kunci agar mudik Lebaran 2026 berlangsung aman dan lancar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....