Standar Cantik Media Sosial Bisa Picu Gangguan Mental, Ini Penjelasan Psikiater
- 26 Apr 2026 15:53 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Standar kecantikan yang berkembang di media sosial dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang, terutama perempuan. Psikiater RSUP Dr. Sardjito, Andrian Fajar Kusumadewi, menegaskan bahwa makna cantik tidak bisa disederhanakan hanya pada penampilan fisik semata.
Menurutnya, kecantikan merupakan konsep yang luas dan dipengaruhi oleh budaya, waktu, serta konteks sosial.
“Cantik itu berkaitan dengan kualitas diri yang menimbulkan daya tarik, bisa dari penampilan yang sehat, kepribadian yang menarik, hingga wawasan yang luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, media sosial kerap membentuk standar kecantikan yang sempit, seperti kulit putih, wajah tirus, tubuh ideal, hingga tampilan glowing yang dianggap sempurna. Padahal, standar tersebut merupakan konstruksi sosial yang terus berubah dan berbeda di setiap wilayah.
Dalam berbagai budaya, definisi cantik pun tidak seragam. Ada masyarakat yang menganggap tubuh berisi sebagai simbol kesuburan, sementara di tempat lain fitur wajah atau warna kulit tertentu dianggap lebih ideal.
Paparan standar kecantikan secara terus-menerus di media sosial tanpa kemampuan menyaring informasi dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri. Kondisi ini berisiko menimbulkan distorsi kognitif, yaitu ketika seseorang meyakini hanya satu bentuk fisik yang dianggap benar.
“Kalau ini terus-menerus diterima tanpa disaring, bisa muncul kesalahan berpikir. Seolah-olah hanya satu standar yang benar, sementara yang lain tidak cantik,” ujarnya.
Dampaknya dapat berupa rasa tidak percaya diri, overthinking, kecemasan, hingga perasaan tidak berharga. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan tidur, burnout, hingga depresi.
Menariknya, seseorang yang secara fisik memenuhi standar kecantikan pun tidak selalu merasa puas terhadap dirinya. Hal ini dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, pengalaman sosial, serta rendahnya penerimaan diri atau body acceptance.
Andrian menjelaskan bahwa body image atau cara seseorang memandang tubuhnya terbentuk sejak masa kecil dan dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan, serta pengalaman hidup. Individu dengan kecenderungan perfeksionis juga lebih rentan merasa tidak puas karena menetapkan standar yang terlalu tinggi terhadap dirinya.
Tanda rendahnya self-esteem terkait penampilan dapat terlihat dari kebiasaan terlalu sering mengecek cermin (body checking), menghindari cermin (body avoidance), hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Namun, ia menegaskan bahwa perawatan diri tetap penting selama dilakukan secara sehat dan tidak berlebihan.
“Merawat diri itu wajar selama tujuannya menjaga kesehatan, bukan karena obsesi untuk menjadi sempurna,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pikiran yang sehat berpengaruh besar terhadap kepercayaan diri dan kondisi fisik seseorang. Pola pikir positif dan kemampuan mengelola emosi dapat membantu seseorang lebih menerima dirinya.
Selain itu, lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Komentar negatif terhadap penampilan, meskipun dianggap bercanda, dapat berdampak besar pada kondisi psikologis seseorang.
“Hal yang dianggap ringan oleh satu orang bisa sangat berdampak bagi orang lain, tergantung bagaimana ia memaknainya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial, menghindari body shaming, serta membangun lingkungan yang lebih suportif agar tidak memperkuat standar kecantikan yang tidak realistis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....