Memahami Vertigo sejak Dini Penyebab hingga Penanganan
- 19 Jul 2026 11:01 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Vertigo merupakan kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami pusing disertai sensasi seolah-olah diri sendiri atau lingkungan sekitar sedang berputar. Meski sering dianggap sebagai penyakit, vertigo sebenarnya merupakan gejala yang muncul akibat gangguan kesehatan tertentu.
Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kemkes.go.id istilah vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang berarti "memutar". Secara umum, vertigo dikenal sebagai ilusi gerakan atau halusinasi gerakan.
Penderita vertigo dapat mengalami berbagai gejala, seperti mual, pandangan kabur, gangguan keseimbangan, disorientasi, hingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini juga dapat memicu gangguan emosional, seperti kecemasan dan stres akibat rasa tidak nyaman yang ditimbulkan.
Berdasarkan penyebabnya, vertigo dibedakan menjadi dua jenis, yaitu vertigo perifer dan vertigo sentral. Vertigo perifer merupakan jenis yang paling sering terjadi dan disebabkan oleh gangguan pada telinga bagian dalam atau saraf vestibular yang berperan menjaga keseimbangan tubuh.
Sementara itu, vertigo sentral disebabkan oleh gangguan pada otak atau sistem saraf pusat. Beberapa kondisi yang dapat memicu vertigo sentral antara lain cedera kepala dan leher, stroke, migrain, multiple sclerosis, penyakit Parkinson, diabetes, tumor, malformasi Chiari, hingga infeksi sifilis.
Selain itu, vertigo juga dapat dipicu oleh efek samping obat-obatan tertentu, perubahan tekanan udara saat menyelam, alergi, gangguan kecemasan, serta perubahan hormon selama kehamilan.
Gejala vertigo yang paling umum adalah sensasi berputar yang biasanya memburuk saat kepala digerakkan. Kondisi ini juga dapat disertai keringat berlebih, mual dan muntah, sakit kepala, telinga berdenging, gangguan pendengaran, gerakan mata yang tidak terkendali, hingga kehilangan keseimbangan.
Serangan vertigo umumnya berlangsung selama beberapa jam. Namun, apabila tidak ditangani dengan baik, keluhan dapat berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, penderita disarankan segera memeriksakan diri ke tenaga medis untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami vertigo antara lain berusia di atas 50 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki riwayat cedera kepala, mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti antidepresan, memiliki riwayat keluarga dengan vertigo, mengalami infeksi telinga, stres berat, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Untuk membantu mencegah kekambuhan, penderita dianjurkan menghindari gerakan kepala secara tiba-tiba, segera duduk saat gejala muncul, menggunakan bantal lebih tinggi saat tidur, menggerakkan kepala secara perlahan, menghindari gerakan mendongak atau membungkuk secara tiba-tiba, serta membatasi konsumsi garam, terutama bagi penderita penyakit Ménière.
Meski beberapa kasus vertigo dapat membaik tanpa pengobatan karena kemampuan otak beradaptasi terhadap perubahan pada telinga bagian dalam, penanganan tetap diperlukan jika gejala sering kambuh atau mengganggu aktivitas. Penanganan yang umum dilakukan meliputi pemberian obat-obatan, rehabilitasi vestibular, prosedur Canalith Repositioning Procedure (CRP), hingga tindakan pembedahan sesuai penyebab yang mendasarinya.
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala vertigo, terutama jika disertai gangguan saraf seperti kelemahan anggota tubuh, kesulitan berbicara, atau penurunan kesadaran, karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda penyakit serius yang memerlukan penanganan medis segera.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....