Mengenal Kondisi Pengentalan Darah dan Risiko yang Bisa Terjadi

  • 28 Feb 2026 18:43 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Kekentalan darah, atau dalam istilah medis sering dikaitkan dengan peningkatan viskositas darah, terjadi ketika darah menjadi lebih kental dari normal sehingga alirannya melambat. Kondisi ini dapat memengaruhi sirkulasi dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah.

Dalam dunia medis, kondisi ini bisa berhubungan dengan gangguan seperti Polycythemia vera atau sindrom hiperviskositas.

Mengutip Cleveland Clinic (my.clevelandclinic.org), salah satu tanda yang sering dirasakan adalah sakit kepala yang terasa berat atau berdenyut. Hal ini terjadi karena aliran darah ke otak tidak seefisien biasanya. Beberapa orang juga mengeluhkan pusing, pandangan kabur, atau rasa melayang, terutama saat berdiri terlalu cepat.

Gejala lain dapat berupa mudah lelah dan tubuh terasa lemas. Ketika darah lebih kental, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya, suplai oksigen ke jaringan bisa terganggu sehingga menimbulkan rasa cepat capek meskipun tidak melakukan aktivitas berat.

Pada beberapa kasus, kekentalan darah dapat memicu kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki. Sirkulasi yang tidak lancar membuat bagian tubuh tertentu kekurangan aliran darah optimal. Kulit juga bisa tampak kemerahan atau terasa hangat, terutama pada wajah.

Tanda yang lebih serius meliputi nyeri dada, sesak napas, atau pembengkakan pada tungkai. Kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa berkaitan dengan pembentukan bekuan darah yang berisiko menyebabkan komplikasi seperti stroke atau serangan jantung. Jika muncul gejala tersebut, pemeriksaan medis segera sangat dianjurkan.

Untuk memastikan apakah darah benar-benar kental, diperlukan pemeriksaan laboratorium seperti tes hematokrit dan hemoglobin. Menjaga hidrasi yang cukup, pola makan seimbang, serta rutin memeriksakan kesehatan adalah langkah penting untuk mencegah gangguan sirkulasi. Jika ada keluhan yang mengarah pada gejala di atas, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....