Bumi Semakin Panas, Berapa Liter Air yang Digunakan AI untuk Edit Foto 80-an?

  • 14 Sep 2026 22:54 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Mengubah foto biasa menjadi foto bergaya tahun 1980-an menggunakan AI memang semakin populer. Sebagaimana dikutip dari laman www.iea.org/ Dengan satu perintah, foto bisa dibuat seolah-olah diambil pada era 80-an, lengkap dengan gaya rambut, pakaian, warna foto, hingga efek kamera analog. Namun, di balik proses yang terlihat sederhana itu terdapat pusat data yang membutuhkan listrik dan sistem pendingin. Karena itu, penggunaan AI juga memiliki jejak lingkungan, termasuk jejak penggunaan air.

Lalu, berapa liter air yang sebenarnya digunakan untuk satu kali edit foto AI? Jawabannya tidak bisa ditentukan dengan satu angka pasti. Konsumsi air sangat bergantung pada model AI, jenis proses yang dilakukan, lokasi pusat data, sumber listrik, serta teknologi pendingin yang digunakan. Dikutip dari laman dl.acm.org Penelitian mengenai jejak air AI juga menekankan bahwa angka penggunaan air dapat berbeda secara signifikan antara satu pusat data dan lainnya.

Salah satu angka yang sering dikutip berasal dari penelitian mengenai jejak air GPT-3. Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 500 mililiter air untuk 10–50 respons teks berukuran sedang, tergantung kapan dan di mana model dijalankan. Artinya, angka 500 mililiter bukan berarti satu pertanyaan atau satu foto AI otomatis menghabiskan satu botol air. Angka tersebut merupakan hasil estimasi berdasarkan kondisi tertentu pada sistem AI dan pusat data yang diteliti.

Untuk pembuatan atau pengeditan gambar, situasinya bahkan lebih sulit dihitung. Proses menghasilkan gambar dapat membutuhkan energi komputasi lebih besar dibandingkan menghasilkan teks. Sebuah kajian yang membahas dampak lingkungan AI menyebut bahwa generasi gambar dapat menggunakan energi jauh lebih besar daripada sebuah permintaan teks, tetapi jumlah air yang digunakan tetap bergantung pada sistem pendinginan dan lokasi pusat data.

Jadi, kalau kita menggunakan AI untuk mengubah satu foto menjadi foto bergaya tahun 80-an, kita tidak bisa mengatakan dengan tepat bahwa satu foto tersebut menggunakan, misalnya, 1 liter, 10 liter, atau 100 mililiter air. Angka tersebut akan menjadi klaim yang terlalu pasti tanpa mengetahui model AI dan infrastruktur pusat data yang digunakan. Bahkan penelitian terbaru menegaskan bahwa estimasi seperti “500 ml untuk sejumlah permintaan” merupakan perkiraan berbasis model, bukan pengukuran langsung yang berlaku untuk semua layanan AI.

Air tersebut juga tidak selalu digunakan secara langsung oleh komputer untuk “membuat foto”. Salah satu sumbernya berasal dari pendinginan pusat data, karena server menghasilkan panas ketika bekerja. Selain itu, terdapat jejak air tidak langsung dari pembangkitan listrik yang digunakan untuk menjalankan pusat data. Karena itu, penelitian mengenai jejak air AI biasanya membedakan antara penggunaan air langsung di pusat data dan penggunaan air tidak langsung yang berkaitan dengan energi.

Persoalannya menjadi semakin penting karena penggunaan AI terus berkembang. International Energy Agency atau IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global mencapai sekitar 415 TWh pada 2024, atau sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia. Pertumbuhan AI menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan pusat data dan listrik.

Dilansir dari laman www.sciencedirect.com Karena itu, semakin sering kita melakukan generate ulang foto, semakin banyak pula pekerjaan komputasi yang harus dilakukan. Misalnya, ketika hasil pertama belum sesuai lalu kita meminta AI membuat lima, sepuluh, atau bahkan puluhan versi lainnya, seluruh proses tersebut membutuhkan sumber daya komputasi tambahan. Jadi, meskipun satu proses mungkin terlihat kecil, penggunaan AI dalam skala jutaan atau miliaran proses dapat menghasilkan dampak lingkungan yang jauh lebih besar.

Namun, bukan berarti kita harus berhenti menggunakan AI. Teknologi ini memiliki banyak manfaat, termasuk untuk kreativitas, pendidikan, pekerjaan, dan pelestarian kenangan lama melalui restorasi maupun rekonstruksi foto. Yang bisa dilakukan pengguna adalah menggunakan AI secara lebih bijak, misalnya tidak melakukan generate berulang kali tanpa kebutuhan, menggunakan hasil yang sudah sesuai, dan menyadari bahwa aktivitas digital sekalipun memiliki kebutuhan energi serta sumber daya di belakangnya.

Jadi, ketika kita mengedit foto lama menjadi foto era 80-an menggunakan AI, mungkin kita bisa melihatnya dari dua sisi. Di satu sisi, teknologi memungkinkan kita menghidupkan kembali kenangan masa lalu dengan cara yang luar biasa. Di sisi lain, ada infrastruktur besar di belakang layar yang membutuhkan listrik, pendinginan, dan sumber daya lainnya. Bukan berarti satu foto pasti menghabiskan satu botol air, tetapi setiap proses AI memiliki jejak lingkungan yang patut kita sadari.

Kesimpulannya, belum ada angka universal yang dapat mengatakan bahwa “satu edit foto 80-an dengan AI menggunakan sekian liter air”. Angka yang sering beredar, yaitu sekitar 500 ml untuk 10–50 permintaan, berasal dari estimasi penelitian tertentu dan tidak boleh dianggap sebagai angka tetap untuk semua AI, apalagi khusus untuk pengeditan gambar. Yang jelas, AI membutuhkan energi dan pada sebagian infrastruktur juga membutuhkan air untuk pendinginan, sehingga penggunaan teknologi secara bijak tetap penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....