Ancaman Tak Terlihat: Mengungkap Potensi Bahaya Radiasi HP
- 04 Agt 2026 11:53 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Penggunaan telepon seluler atau smartphone yang semakin meningkat membuat paparan gelombang radio dari perangkat tersebut menjadi perhatian. Meski termasuk radiasi non-ionisasi yang berbeda dengan radiasi berbahaya seperti sinar-X dan nuklir, penggunaan ponsel secara berlebihan tetap menjadi sorotan terkait potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Telepon seluler bekerja dengan memancarkan gelombang radio atau radiofrequency (RF), yaitu jenis radiasi non-ionisasi yang digunakan untuk mengirimkan sinyal komunikasi. Radiasi ini tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA secara langsung.
Ada kemungkinan hubungan antara penggunaan ponsel secara berlebihan dengan gangguan kesehatan tertentu, seperti gangguan tidur, sakit kepala, hingga penurunan konsentrasi. Paparan gelombang radio yang terjadi saat ponsel digunakan dekat dengan kepala juga menjadi perhatian terkait potensi dampaknya terhadap fungsi otak dan sistem saraf.
Selain itu, penggunaan ponsel sebelum tidur juga dapat memengaruhi kualitas istirahat. Cahaya biru dari layar ponsel diketahui dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur siklus tidur, sehingga dapat menyebabkan sulit tidur dan kelelahan.
Risiko lain yang masih diteliti adalah pengaruh paparan gelombang radio terhadap sistem reproduksi. Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan adanya dampak terhadap kualitas sperma dan fungsi ovarium, terutama pada penggunaan dalam waktu lama dengan posisi ponsel yang dekat dengan tubuh.
Anak-anak juga menjadi kelompok yang mendapat perhatian karena sistem saraf dan otak mereka masih dalam tahap perkembangan. Sejumlah lembaga kesehatan dunia menganjurkan agar penggunaan perangkat nirkabel pada anak-anak dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan.
Untuk mengurangi paparan radiasi, masyarakat disarankan menerapkan beberapa langkah sederhana, seperti menggunakan earphone atau fitur pengeras suara saat menelepon, menjaga jarak ponsel dari kepala saat tidur, menghindari menyimpan ponsel terlalu dekat dengan tubuh dalam waktu lama, serta membatasi penggunaan terutama pada anak-anak.
Selain itu, penggunaan ponsel saat sinyal lemah juga sebaiknya dikurangi karena perangkat dapat meningkatkan daya pancarnya untuk mencari jaringan. Mengaktifkan mode pesawat ketika ponsel tidak digunakan, terutama saat tidur, juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi paparan.
Meskipun radiasi ponsel tidak memiliki kekuatan seperti radiasi ionisasi, penggunaan smartphone secara berlebihan tetap perlu diperhatikan. Masyarakat diimbau untuk menggunakan teknologi secara bijak agar manfaat komunikasi tetap diperoleh tanpa mengabaikan kesehatan jangka panjang.
(Sumber:tribratanews.polri.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....