BI Sulut Dorong Penguatan Ekonomi dan Dunia Usaha di Tengah Ketidakpastian Global
- 17 Sep 2026 19:21 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menggelar Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi atau LPP Sulawesi Utara Periode Agustus 2026, yang dirangkaikan dengan Temu Responden 2026 di Manado.
Mengangkat tema “Bincang Ekonomi: Outlook Ekonomi dan Prospek Usaha Sulawesi Utara”, kegiatan ini menghadirkan Menteri BUMN periode 2011–2014 sekaligus pebisnis, Dahlan Iskan, serta Chief Economist BCA Group, David Sumual, sebagai narasumber.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Selatan Deddy Abdul Hamid, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Utara Wahyu Prihantoro, Kepala BPS Sulawesi Utara Watekhi, Kepala Kanwil DJP Suluttenggomalut Ardiyanto Basuki, serta sejumlah pimpinan lembaga, perangkat daerah, perbankan, instansi vertikal, pelaku usaha, dan responden survei Bank Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara Joko Supratikto mengatakan, perekonomian Sulawesi Utara masih menunjukkan resiliensi. Pada triwulan kedua 2026, ekonomi Sulawesi Utara tumbuh sebesar lima koma empat dua persen secara tahunan.
Dari sisi pembiayaan, intermediasi perbankan juga tumbuh positif. Kredit perbankan meningkat tiga koma nol delapan persen secara tahunan, sementara Dana Pihak Ketiga atau DPK tumbuh delapan koma nol delapan persen per Juli 2026.
Kualitas kredit juga tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau NPL sebesar dua koma tujuh tujuh persen.
Meski demikian, Joko mengingatkan pentingnya mencermati perkembangan harga. Hingga Agustus 2026, inflasi kumulatif Sulawesi Utara tercatat tiga koma enam delapan persen secara tahunan berjalan.
Karena itu, sinergi antar-pemangku kepentingan perlu terus diperkuat, terutama untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, sehingga inflasi tetap berada dalam sasaran dua koma lima persen plus-minus satu persen.
Sementara itu, hasil survei Bank Indonesia menunjukkan konsumsi masyarakat di Kota Manado masih kuat. Hal tersebut tercermin dari perkembangan Indeks Penjualan Riil.
Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Harga menunjukkan optimisme bahwa perkembangan harga tetap terkendali hingga akhir tahun.
Dari sektor dunia usaha, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha atau SKDU juga menunjukkan peningkatan signifikan pada Saldo Bersih Tertimbang di triwulan ketiga 2026. Kondisi ini menjadi sinyal adanya ekspansi aktivitas usaha di Sulawesi Utara.
Joko menegaskan, data yang disampaikan para responden survei Bank Indonesia memiliki peran penting dalam penyusunan asesmen ekonomi dan perumusan rekomendasi kebijakan yang tepat waktu, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi daerah.
Memasuki sesi pertama, Chief Economist BCA Group David Sumual memaparkan arah perekonomian global dan nasional pada 2026 hingga 2027 serta dampaknya terhadap Kawasan Timur Indonesia.
David menyebut, perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang dipengaruhi dinamika geopolitik, kebijakan suku bunga, serta perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.
Di tengah kondisi tersebut, Sulawesi Utara dinilai memiliki sejumlah potensi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Di antaranya Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Likupang, pengembangan energi baru terbarukan seperti PLTP Lahendong, serta Kawasan Industri Mongondow.
Potensi pariwisata juga dinilai semakin terbuka dengan adanya penerbangan langsung dari Asia Timur. Ditambah dengan berkembangnya kerja sama internasional, kondisi tersebut membuka peluang investasi di sektor manufaktur, pengolahan komoditas, dan pembangunan infrastruktur.
Pada sesi kedua, pebisnis sekaligus Menteri BUMN periode 2011–2014 Dahlan Iskan membagikan perspektif praktis kepada para pelaku usaha dalam menghadapi transformasi ekonomi.
Dahlan menekankan pentingnya fokus, integritas, disiplin dalam mengelola keuangan, serta membangun pola pikir yang tidak bergantung pada pihak lain.
Menurut Dahlan, Sulawesi Utara juga memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor melalui komoditas olahan, seperti minyak kelapa, ikan, pala, dan cengkeh.
Ia menyoroti tingginya permintaan komoditas kelapa dari Tiongkok serta pentingnya pengembangan layanan direct call dari Pelabuhan Bitung sebagai salah satu hub strategis di kawasan.
Para pelaku usaha Sulawesi Utara juga didorong untuk berani melakukan inovasi, meningkatkan kapasitas produksi, serta menangkap peluang pada sektor-sektor baru, termasuk pendidikan dan kesehatan.
Melalui Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi dan Temu Responden 2026 ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Sulawesi Utara.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendorong perekonomian Sulawesi Utara yang semakin inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....