Pembiayaan Paylater dan Pinjol di Indonesia Tembus Ratusan Triliun
- 08 Jul 2026 12:00 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah digital kian tak terbendung, ditandai dengan melonjaknya penggunaan fasilitas Buy Now Pay Later (BNPL) dan Pinjaman Online (Pinjol). Menanggapi fenomena ini, Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai resiliensi dan kinerja intermediasi sektor jasa keuangan tetap terjaga dengan baik sebagai modalitas utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data resmi OJK per Mei 2026, stabilitas sektor keuangan domestik yang kuat ini ikut tecermin dari pertumbuhan luar biasa pada sektor pembiayaan berbasis teknologi, di mana nilai akomodasi utang digital masyarakat kini telah menembus angka ratusan triliun rupiah. OJK memastikan bauran kebijakan yang memadai terus dilakukan guna menjaga stabilitas tersebut.
Di sektor perbankan sendiri, porsi produk kredit Paylater tercatat sebesar 0,34 persen dari total keseluruhan kredit. Kendati demikian, nilai baki debet BNPL perbankan yang dilaporkan dalam SLIK melesat tumbuh 37,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga menyentuh angka fantastis Rp30,1 triliun, dengan jumlah rekening pengguna aktif mencapai 31,76 juta akun.
Ledakan konsumsi menggunakan skema "belanja sekarang, bayar nanti" ini bahkan jauh lebih agresif pada industri perusahaan pembiayaan (multifinance). OJK mencatat pembiayaan Paylater lewat perusahaan pembiayaan melompat hingga 53,78 persen (yoy) menjadi Rp13,18 triliun. Hanya saja, lonjakan ini dibarengi dengan kenaikan rasio kredit macet (NPF gross) di sektor terkait yang merangkak ke level 3,44 persen.
Tak kalah subur, industri Pinjaman Online atau pinjol resmi juga mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan sebesar 25,60 persen secara tahunan. Secara akumulatif, nominal dana masyarakat yang berputar di dalam industri pinjol legal per Mei 2026 berada di angka Rp103,73 triliun.
OJK menyatakan terus memantau ketat laju pertumbuhan utang digital ini agar kinerja industri tetap sehat dan aman. Hingga saat ini, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 untuk industri pinjol dipastikan masih berada di posisi terkendali, yakni 4,42 persen, sedikit menurun dibandingkan posisi April 2026 yang sempat menyentuh angka 4,62 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....