Kenapa Sesuatu Disebut Baik atau Buruk
- 14 Sep 2026 15:32 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Manusia sering memahami sesuatu sebagai baik, buruk, atau indah dengan melihat perbedaannya dari hal lain. Sebuah tindakan dapat dianggap baik karena ada perilaku yang lebih buruk, sedangkan sesuatu terlihat menarik karena dibandingkan dengan hal yang dinilai kurang indah.
Jurnal “It’s Not What You Do, but What Everyone Else Does: On the Role of Descriptive Norms and Subjectivism in Moral Judgment” yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology menjelaskan bahwa penilaian moral seseorang tidak terlepas dari kebiasaan yang berlaku di lingkungan sosialnya. Melalui lima penelitian, para peneliti menemukan bahwa tindakan baik cenderung mendapat penghargaan lebih besar apabila dilakukan melampaui perilaku yang umum dilakukan kelompok. Namun, apresiasi tersebut dapat menurun ketika tindakan yang sama sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Temuan ini memperlihatkan bahwa ukuran kebaikan sering kali terbentuk melalui perbandingan dengan perilaku orang lain.
Sementara itu, jurnal “The Relevance of Moral Norms in Distinct Relational Contexts: Purity Versus Harm Norms Regulate Self-Directed Actions” dalam PLOS ONE menunjukkan bahwa penilaian terhadap suatu tindakan dipengaruhi oleh jenis perbuatan dan pihak yang terkena dampaknya. Perilaku yang merugikan orang lain biasanya dinilai berdasarkan akibat yang ditimbulkan. Berbeda halnya dengan tindakan yang hanya berkaitan dengan diri sendiri, yang dapat dipertimbangkan berdasarkan norma kepantasan, kesopanan, atau kemurnian. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian moral tidak hanya bergantung pada tindakan, tetapi juga pada norma dan konsekuensinya.
Penjelasan lain terdapat dalam jurnal “Behavioral Norms for Condensed Moral Vignettes” yang diterbitkan dalam Social Cognitive and Affective Neuroscience. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa manusia menilai tindakan dengan mempertimbangkan pelanggaran terhadap norma, perasaan sosial, serta maksud di balik perilaku. Dengan kata lain, hasil dari sebuah tindakan bukan satu-satunya hal yang diperhatikan. Alasan, niat, dan emosi yang menyertainya juga ikut membentuk penilaian.
Jika seluruh orang selalu berbuat baik, kebaikan mungkin tidak lagi dianggap luar biasa karena telah menjadi kebiasaan bersama. Sebaliknya, ketika semua orang bertindak jahat, manusia akan kesulitan menemukan perilaku yang dapat dijadikan pembanding. Hal serupa dapat terjadi pada keindahan. Apabila semua hal memiliki tingkat keindahan yang sama, tidak ada lagi perbedaan yang membuat sesuatu tampak lebih menonjol.
Meski demikian, keberadaan nilai tidak sepenuhnya bergantung pada perbandingan. Kebaikan tetap memiliki makna karena manfaat yang diberikan, keindahan tetap dapat dinikmati, dan kejahatan tetap dapat dikenali melalui dampak yang ditimbulkannya. Perbandingan membantu manusia melihat dan memahami suatu nilai dengan lebih jelas, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menentukan arti baik, buruk, maupun indah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....