Silent Treatment, Berdampak Buruk pada Hubungan dan Kesehatan Mental

  • 04 Sep 2026 14:24 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Konflik dalam hubungan tidak selalu diselesaikan melalui komunikasi. Sebagian orang justru memilih diam, menghindar, atau memutus komunikasi untuk sementara waktu. Sikap tersebut dikenal sebagai silent treatment. Sekilas, silent treatment mungkin terlihat sebagai cara untuk menghindari pertengkaran. Namun, jika dilakukan dalam waktu yang lama dan tanpa komunikasi yang jelas, perilaku ini justru dapat memperumit masalah serta berdampak pada hubungan dan kondisi psikologis seseorang.

Dikutip dari laman polri.go.id silent treatment atau perilaku mendiamkan seseorang dalam konflik dapat membuat persoalan tidak terselesaikan. Komunikasi yang terputus juga berpotensi memperburuk konflik dan membuat hubungan menjadi semakin renggang. Orang yang mendapatkan perlakuan tersebut dapat mengalami berbagai dampak emosional, mulai dari kebingungan, kecemasan, stres, hingga merasa tidak dihargai dan rendah diri. Dalam kondisi tertentu, silent treatment juga dapat menimbulkan luka emosional dan rasa kesepian.

Selain itu, tidak adanya komunikasi yang jelas dapat memicu kesalahpahaman. Kedua pihak dapat menafsirkan situasi secara berbeda sehingga persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan justru berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Jika dilakukan secara berulang, silent treatment juga dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat. Dalam situasi tertentu, perilaku tersebut bahkan dapat berkembang menjadi bentuk manipulasi emosional.

Meski demikian, silent treatment perlu dibedakan dengan tindakan mengambil waktu untuk menenangkan diri. Seseorang yang sedang marah atau kecewa memang dapat membutuhkan ruang untuk meredam emosi. Namun, idealnya hal tersebut disampaikan dengan jelas dan bukan dengan menghilang atau mengabaikan orang lain dalam waktu yang tidak ditentukan. Untuk menghindari silent treatment, konflik dapat dihadapi dengan komunikasi yang tenang. Seseorang dapat mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri, kemudian kembali membicarakan persoalan secara terbuka.

Penggunaan kata-kata yang jelas juga penting untuk menyampaikan perasaan, kebutuhan, maupun batasan diri tanpa harus mengabaikan pihak lain. Empati dan upaya memahami sudut pandang lawan bicara juga dapat membantu proses penyelesaian konflik. Sementara bagi seseorang yang mendapatkan silent treatment, tetap tenang dan memberikan ruang kepada pihak lain dapat menjadi langkah awal. Namun, perasaan dan kebutuhan untuk mendapatkan komunikasi yang sehat juga perlu disampaikan dengan baik.

Silent treatment tidak hanya muncul dalam konflik antarindividu. Dalam kondisi tertentu, seseorang yang menjadi korban pelecehan juga dapat memilih untuk tidak membicarakan pengalaman yang dialaminya. Sikap tersebut bisa menjadi bentuk perlindungan diri untuk mencegah ancaman, kekerasan, atau dampak lain dari pelaku. Di sisi lain, sikap diam juga dapat muncul sebagai reaksi seseorang ketika merasa frustrasi menghadapi suatu persoalan. Ketika kondisi sudah terkendali dan emosi mereda, orang tersebut biasanya dapat kembali berkomunikasi seperti biasa.

Karena itu, mengambil jeda untuk menenangkan diri berbeda dengan sengaja mengabaikan seseorang sebagai bentuk hukuman atau tekanan emosional. Komunikasi yang terbuka dan sehat menjadi salah satu kunci dalam menjaga hubungan. Dengan mengganti sikap saling mendiamkan dengan dialog yang jelas dan penuh empati, konflik diharapkan dapat diselesaikan tanpa menimbulkan luka emosional yang lebih dalam.

(Sumber:tribratanews.polri.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....