Judol Picu Kecanduan dan Gangguan Kesehatan Mental
- 13 Agt 2026 13:04 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Judi online kini menjadi salah satu fenomena yang semakin meresahkan, khususnya di kalangan generasi muda. Kemudahan akses melalui telepon pintar dan media sosial membuat perjudian semakin mudah dijangkau. Di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko serius terhadap kesehatan mental, kondisi sosial, hingga keuangan para penggunanya.
Perkembangan teknologi digital memang memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kemudahan akses internet juga dimanfaatkan untuk aktivitas perjudian online yang kini semakin mudah ditemukan di berbagai platform digital. Salah satu dampak paling serius dari judi online adalah munculnya gambling disorder atau gangguan perjudian. Kondisi ini ditandai dengan kesulitan mengendalikan keinginan untuk berjudi, meskipun aktivitas tersebut telah menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan seseorang.
Kecanduan judi dapat memengaruhi sistem penghargaan di otak dan membuat seseorang terus mengejar sensasi kemenangan. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku kompulsif, sehingga seseorang tetap berjudi meskipun mengalami kekalahan berulang kali. Pada generasi muda, kecanduan judi online dapat berdampak terhadap kesehatan mental. Kegagalan memperoleh kemenangan dan kerugian yang terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, rasa bersalah, frustrasi, hingga depresi.
Gangguan tersebut juga dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Prestasi belajar dan motivasi sekolah dapat menurun, sementara hubungan dengan keluarga maupun teman dapat terganggu. Dalam kondisi tertentu, seseorang juga dapat terdorong melakukan perilaku berisiko untuk mendapatkan uang dan kembali berjudi. Kecanduan judi merupakan gangguan kejiwaan yang membutuhkan penanganan. Penanganannya dapat dilakukan melalui psikoterapi dan rehabilitasi medis sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Selain berdampak terhadap kesehatan mental, judi online juga dapat menimbulkan persoalan finansial. Kekalahan sering membuat pemain berusaha mendapatkan kembali uang yang telah hilang dengan memasang taruhan berikutnya. Kondisi ini dapat menciptakan lingkaran kerugian dan utang. Tidak sedikit orang yang akhirnya meminjam uang atau melakukan tindakan berisiko demi mempertahankan kebiasaan berjudi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat meluas kepada keluarga. Masalah keuangan, konflik rumah tangga, hingga rusaknya hubungan sosial dapat muncul akibat kecanduan judi. Di sisi lain, stigma terhadap gangguan kesehatan mental masih menjadi salah satu hambatan bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Sebagian anak muda memilih menyembunyikan masalah yang dialami karena takut mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar.
Karena itu, pencegahan judi online membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Orang tua memiliki peran dalam memberikan pengawasan dan edukasi digital, sementara sekolah dapat memperkuat literasi mengenai bahaya perjudian serta kesehatan mental. Pemerintah juga memiliki peran dalam membatasi akses terhadap situs dan platform perjudian online, sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai risiko kecanduan.
Judi online bukan sekadar persoalan kehilangan uang. Kecanduan yang tidak ditangani dapat berdampak pada kesehatan mental, pendidikan, hubungan sosial, dan kehidupan keluarga. Karena itu, keterbukaan untuk mencari bantuan menjadi langkah penting. Anak muda yang mengalami kesulitan mengendalikan kebiasaan berjudi perlu didukung untuk mendapatkan bantuan profesional, bukan justru mendapat stigma atau dikucilkan.
(Sumber:tribratanews.polri.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....