Waspada Obesitas Remaja, Pola Hidup Tidak Sehat Jadi Pemicu

  • 27 Agt 2026 13:15 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Obesitas kini tidak hanya menjadi masalah kesehatan pada orang dewasa, tetapi juga semakin banyak dialami oleh remaja. Kondisi ini menjadi perhatian karena kelebihan berat badan pada usia muda dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius di kemudian hari. Obesitas telah menjadi salah satu masalah kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Tidak lagi hanya dialami oleh orang dewasa, obesitas kini juga semakin banyak ditemukan pada kelompok remaja.

Dikutip dari laman polri.go.id obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh secara berlebihan yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan, seperti penyakit jantung, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, stroke, penyakit pembuluh darah, hingga gangguan metabolisme. Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara energi yang masuk ke dalam tubuh atau energy intake dengan energi yang digunakan atau energy expenditure dalam jangka waktu yang panjang.

Salah satu faktor utama yang memicu obesitas adalah pola makan yang tidak sehat. Konsumsi makanan tinggi kalori, lemak jenuh, gula tambahan, serta rendah serat, termasuk makanan cepat saji, camilan manis, dan minuman bersoda, dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Kebiasaan mengonsumsi makanan dalam porsi berlebihan juga menjadi salah satu pemicunya.

Selain pola makan, gaya hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik turut berperan. Kebiasaan remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi, komputer, maupun telepon pintar dapat membuat aktivitas fisik berkurang sehingga energi yang masuk lebih banyak dibandingkan energi yang dikeluarkan.

Faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko obesitas. Anak yang memiliki orang tua dengan obesitas cenderung mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, faktor genetik bukan menjadi satu-satunya penyebab karena lingkungan keluarga dan kebiasaan sehari-hari juga turut memengaruhi.

Tidak hanya faktor fisik, kondisi psikologis dan emosional juga dapat memengaruhi pola makan. Stres, kecemasan, dan depresi dapat mendorong seseorang melakukan emotional eating, yaitu makan secara berlebihan sebagai bentuk pelarian dari tekanan emosional. Sejumlah kondisi medis dan penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Di antaranya hipotiroidisme, sindrom ovarium polikistik atau PCOS, serta penggunaan obat tertentu seperti antidepresan dan steroid.

Kurangnya edukasi mengenai pola hidup sehat dan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi juga menjadi tantangan, terutama bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi tertentu. Untuk mengetahui status berat badan, salah satu metode yang paling banyak digunakan adalah Indeks Massa Tubuh atau IMT. Pengukuran ini dilakukan dengan membandingkan berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter yang dikuadratkan. Namun, pada remaja, interpretasi IMT perlu mempertimbangkan usia dan jenis kelamin, sehingga penilaiannya sebaiknya menggunakan kurva pertumbuhan atau standar khusus anak dan remaja.

Obesitas pada remaja bukan sekadar persoalan penampilan. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan serius yang dapat meningkatkan risiko penyakit dan berdampak hingga usia dewasa. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, serta dukungan keluarga dan lingkungan agar remaja dapat tumbuh secara sehat. Obesitas pada remaja merupakan ancaman kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama. Dengan mengenali faktor penyebab dan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini, risiko komplikasi akibat obesitas dapat ditekan.

(Sumber:tribratanews.polri.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....