Tanpa Manusia, Satwa Liar Justru 'Subur' di Zona Nuklir Chernobyl

  • 22 Mei 2026 08:01 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Spesies mamalia besar seperti Kuda Przewalski, Lynx Eurasia, dan serigala dilaporkan hidup subur di Zona Eksklusi Chernobyl yang terkontaminasi radiasi.
  • Para peneliti menegaskan hilangnya aktivitas manusia (seperti perburuan dan polusi lalu lintas) menjadi alasan utama satwa liar dapat bertahan dan berkembang.
  • Penelitian menggunakan kamera tersembunyi ini menjadi survei ekologi mamalia besar paling komprehensif yang pernah dilakukan di wilayah terdampak nuklir tersebut.

RRI.co.id, Manado: Dekade setelah bencana nuklir terburuk dalam sejarah, Zona Eksklusi Chernobyl (CEZ) di Ukraina kini justru bertransformasi menjadi surga bagi mamalia besar.

Dilansir dari ABC News, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B mengungkapkan bahwa berbagai spesies hewan liar kini hidup "subur" dan berkembang biak dengan baik di area steril manusia tersebut.

Kuda-kuda Przewalski di dekat kota Chernobyl pada Juni 2020. (Foto: ABC News/Kateryna Korepanova)

Melalui kamera pengawas (camera traps) yang dipasang di seluruh zona terlarang seluas 2.600 kilometer persegi tersebut, para ilmuwan mendeteksi populasi yang besar dan beragam dari 11 spesies mamalia. Di antaranya adalah Kuda Przewalski (kuda liar langka), Lynx Eurasia, rusa besar (moose), serigala abu-abu, hingga beruang cokelat.

Seekor rusa Roe menyeberangi jalur kereta api di dekat desa terbengkalai Novoshepelychi pada Mei 2020. (Foto: ABC News/Kateryna Korepanova)

Svitlana Kudrenko, ahli ekologi dari Albert Ludwig University of Freiburg, Jerman, sekaligus pemimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa faktor utama suburnya satwa ini adalah hilangnya gangguan dari manusia.

A Gray wolf is shown in a central part of the Chornobyl Exclusion Zone. This camera trap project was funded by the Association for Studying Animal Behaviour, UK, July, 2025. (Foto: ABC News/Svitlana Kudrenko)

Sejak reaktor nomor 4 pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl meledak pada 26 April 1986, kawasan ini dikosongkan dari lebih dari 100,000 penduduk dan dijaga ketat.

"Gangguan manusia seperti perburuan liar dan lalu lintas kendaraan memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap penyebaran mamalia besar," ujar Kudrenko kepada ABC News.

Kawasan isolasi ini memberikan habitat berkualitas tinggi yang menyediakan tempat istirahat aman serta ketersediaan pakan yang melimpah tanpa adanya ancaman dari pemburu.

Meskipun wilayah ini masih memiliki titik-titik kontaminasi radioaktif yang tinggi, para ilmuwan sepakat bahwa dampak buruk radiasi kalah besar dibanding dampak positif dari hilangnya manusia.

Tim Mousseau, Profesor Ilmu Biologi dari University of South Carolina yang telah meneliti Chernobyl selama lebih dari 20 tahun, menyebutkan bahwa satwa-satwa ini bernasib "cukup baik" di alam liar. Hal ini membuktikan bahwa area perlindungan yang luas sangat krusial bagi penyelamatan satwa dari tekanan perburuan.

Meski penelitian sebelumnya pada tahun 2023 menunjukkan adanya perubahan genetika pada populasi anjing liar di sekitar reaktor akibat radiasi, hewan-hewan besar ini terbukti tidak memilih atau menghindari habitat berdasarkan tingkat kontaminasi, melainkan murni berdasarkan kualitas lingkungan dan ketersediaan mangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....