Masa Prapaskah Jadi Momentum Pertobatan dan Harmoni Umat Katolik

  • 23 Feb 2026 11:56 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Masa Prapaskah menjadi momentum penting bagi umat Katolik untuk melakukan pertobatan dan pembaruan iman, sekaligus memperkuat solidaritas sosial dan harmoni antarumat beragama. Hal ini disampaikan Pastor Paroki St. Joseph Sarongsong, Pastor Rheinner Saneba, saat dialog bersama RRI, Kamis, 19 Februari 2026.

Pastor Rheinner menjelaskan, rangkaian perayaan Paskah diawali dengan Kamis Putih, dilanjutkan Jumat Agung, Malam Paskah, hingga Hari Raya Paskah pada Minggu. Ia menekankan bahwa Jumat Agung merupakan hari yang khusyuk bagi umat Katolik, ditandai dengan ibadat, penghormatan salib, serta kewajiban pantang dan puasa sebagai bentuk solidaritas iman.

“Jumat Agung itu sunyi, sunyi karena kita berempati dengan Yesus yang menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi manusia,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan makna penghormatan salib dalam liturgi Jumat Agung yang sering dilakukan umat melalui sujud atau mencium salib. Menurutnya, tindakan tersebut bukan bentuk penyembahan benda, melainkan ungkapan iman terhadap makna keselamatan yang dilambangkan oleh salib.

“Penghormatan itu bukan menyembah kayu dan korpus, tetapi melihat lebih dalam makna Yesus yang wafat demi keselamatan kita,” katanya.

Dalam perayaan Malam Paskah, umat Katolik merayakan kebangkitan Kristus melalui upacara cahaya, pewartaan Sabda, pembaruan janji baptis, dan perayaan Ekaristi. Cahaya lilin Paskah menjadi simbol kehidupan baru yang mengalahkan kegelapan dan kematian.

Pastor Rheinner juga menekankan bahwa masa Prapaskah bukan hanya ritual keagamaan, tetapi panggilan untuk pembaruan hidup melalui pertobatan, solidaritas sosial, dan kerja sama dengan sesama.

“Kita diajak kembali ke jati diri sebagai orang beriman, melakukan pertobatan yang sungguh-sungguh, serta tindakan pemberdayaan bagi sesama manusia,” jelasnya.

Ia mengajak umat Katolik untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lain, serta bekerja sama dengan pemerintah dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Prinsip 100 persen Katolik, 100 persen warga negara disebutnya sebagai komitmen iman sekaligus kebangsaan.

Selain itu, gereja juga diharapkan semakin inklusif bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, agar mereka dapat mengakses tempat ibadah secara mandiri dan bermartabat.

Menurut Pastor Rheinner, Prapaskah harus dimaknai sebagai perjalanan iman menuju pembaruan diri, keluarga, gereja, dan masyarakat.

“Mari kita mewujudkan masa puasa ini dengan hidup baik, hidup harmoni, dan hidup benar dengan siapa pun yang kita jumpai,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....