Masyarakat Sesuaikan Daya Beli, Wisata Murah Jadi Tren Liburan 2026
- 30 Jun 2026 14:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tren liburan sekolah tahun 2026 menunjukkan perubahan perilaku wisatawan. Masyarakat kini lebih memilih destinasi yang terjangkau dibandingkan perjalanan mahal ke luar pulau maupun luar negeri.
Pengamat Ekonomi Pariwisata sekaligus dosen Politeknik Negeri Malang, Dr. Aang Afandi, mengatakan, kondisi ekonomi mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam mengatur pengeluaran selama liburan.
"Masyarakat sekarang lebih realistis terhadap kondisi yang ada. Banyak yang menahan diri dan berhemat, tetapi aktivitas wisata tetap berjalan," kata Aang, Senin 29 Juni 2026.
Menurutnya, terjadi pergeseran pola wisata dari penggunaan pesawat menuju moda transportasi yang lebih ekonomis seperti kereta api, bus, maupun kendaraan pribadi. Yang sebelumnya berwisata menggunakan pesawat, sekarang beralih naik kereta, bus, atau kendaraan pribadi karena harga tiket pesawat cukup tinggi.
Perubahan tersebut, lanjut Aang, justru membuka peluang baru bagi destinasi wisata di Pulau Jawa, termasuk Malang Raya.
"Pergerakan wisatawan yang tadinya ke luar pulau bahkan ke luar negeri, kini cukup berwisata di Jawa atau daerah yang lebih dekat. Ini menjadi potensi baru.Ketika daya beli turun, pelaku usaha harus memahami kemampuan konsumen. Mungkin harga diturunkan, tetapi volume pengunjung meningkat berkali-kali lipat," katanya.
Aang menilai pelaku industri wisata harus terus membaca perubahan perilaku wisatawan agar tetap mampu bersaing di tengah situasi ekonomi yang dinamis. Pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal dinilai menjadi strategi penting untuk memperkuat daya saing pariwisata di tengah menjamurnya destinasi wisata baru di berbagai daerah.
Ia menegaskan inovasi berbasis budaya dan kehidupan masyarakat lokal justru memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan. Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti tradisi menjemur gabah di Banyuwangi yang justru diminati wisatawan mancanegara.
"Hal-hal sederhana berbasis kearifan lokal ternyata di luar dugaan sangat menarik bagi wisatawan, termasuk wisatawan asing," katanya.
Menurut Aang, Malang Raya memiliki potensi besar untuk mengembangkan wisata berbasis komunitas, mulai dari aktivitas pertanian hingga kuliner lokal. Misalnya aktivitas pertanian di kawasan pedesaan yang dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang menarik.
Ia menekankan agar manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya dinikmati investor besar, tetapi juga masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
"Pemerintah perlu menghubungkan wisata berbasis modal besar dengan wisata berbasis komunitas agar masyarakat juga ikut menikmati kue pariwisata," tuturnya.
Aang pun mendorong pemerintah daerah untuk semakin menggerakkan desa-desa wisata sebagai kekuatan baru sektor pariwisata di Malang Raya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....