Pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger Bromo Ditarget Rampung Oktober 2026

  • 26 Jun 2026 17:20 WIB
  •  Malang

RRI. CO. ID, Probolinggo – Pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Gunung Bromo terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga saat ini, progres pengerjaan proyek yang bertujuan menata kawasan konservasi dan wisata tersebut telah mencapai lebih dari 50 persen.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanto Nugraha, mengatakan pemasangan patok sebagai bagian dari pembangunan jalur telah berjalan signifikan. Dari sekitar 5 ribu patok yang telah didistribusikan ke lokasi proyek, seluruhnya telah dipasang di sepanjang jalur yang dikerjakan.

“Progres pembangunan sudah mencapai lebih dari 50 persen. Sekitar 5 ribu patok telah terpasang di jalur yang dikerjakan,” kata Rudijanto, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, seluruh material proyek didistribusikan melalui pintu masuk Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Jalur tersebut dipilih karena dinilai paling memungkinkan untuk mobilisasi material.

“Jalur Cemoro Lawang yang paling memungkinkan untuk distribusi material proyek. Tetapi pengerjaan kami mulai dari arah Watu Gede, Kabupaten Malang,” ujarnya.

Proyek yang dikerjakan PT Tata Bangun Asia itu dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Pengerjaan melibatkan dua unit ekskavator dan belasan tenaga kerja.

Meski cuaca hujan sesekali menjadi kendala di lapangan, Rudijanto memastikan proyek masih berjalan sesuai rencana.

“Secara umum pengerjaan berjalan aman, lancar, dan masih on progress. Walaupun cuaca masih menjadi kendala karena kadang hujan. Itu bisa menghambat pekerjaan di lapangan,” katanya.

BB TNBTS menargetkan pembangunan JLKT dapat diselesaikan pada Oktober 2026. Keberadaan jalur ini diharapkan mampu mendukung upaya konservasi kawasan Bromo sekaligus menata aktivitas wisata agar lebih tertib.

Selain itu, JLKT juga diharapkan dapat membantu menjaga ekosistem padang savana dari munculnya jalur-jalur tidak resmi yang selama ini membentuk pola menyerupai "jaring laba-laba" akibat lalu lintas kendaraan yang tidak teratur.

“Dengan adanya JLKT, kami berharap kawasan menjadi lebih tertata, ekosistem savana lebih terjaga, dan aktivitas wisata tetap berjalan dengan baik,” ujar Rudijanto.

Ia menegaskan, hingga saat ini pembangunan JLKT tidak mengganggu aktivitas wisata di kawasan Bromo. Arus kunjungan wisatawan tetap berlangsung normal selama proses pengerjaan berlangsung.

“Pengerjaan berjalan lancar dan tidak mengganggu arus pengunjung. Pariwisata juga masih terus berjalan,” pungkasnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....