Gebyak Wayang Topeng Malang Digelar di Boonpring Turen
- 09 Nov 2025 08:21 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Gebyak Wayang Topeng Malang menggema di kawasan wisata Boon Pring, Turen, pada 8–9 November 2025 dalam rangka Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Malang. Ajang ini mempertemukan pelaku seni, masyarakat, dan pelaku usaha kreatif dari subsektor kuliner, kriya, fesyen, musik, film, hingga seni pertunjukan.
Wayang Topeng Malang menjadi pusat perhatian, bukan sekadar tontonan, tetapi wujud nyata pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang diakui sejak 2014.
Cerita Panji yang menjadi inti pementasan juga telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017. Karenanya, Gebyak Wayang Topeng bukan hanya perayaan seni, tetapi juga penegasan komitmen Kabupaten Malang untuk menjaga warisan budaya sambil mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis nilai lokal.
Lima kelompok topeng tampil memukau di hari pertama, seperti Sanggar Madyo Utomo, Dharmo Langgeng, Sailendra, Bayu Candra Kirana, dan Condro Kirono, membawakan lakon-lakon klasik penuh pesan moral. Ribuan penonton memenuhi Boon Pring menikmati gerak tari para penari topeng yang dipandu Eko Ujang dari Komunitas Tari Laras Aji dan dikurasi maestro topeng Malang, Ki Soleh Adi Pramono.
Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Hartono, mengatakan pelestarian kesenian tradisional harus selaras dengan penguatan pariwisata.
“Gebyak Wayang Topeng Malang ini merupakan strategi pelestarian yang dikolaborasikan dengan event pariwisata dan kegiatan ekonomi kreatif di lokasi wisata unggulan seperti Boon Pring. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang menonton dan menumbuhkan kecintaan terhadap kesenian daerah,” ujarnya.
Senada, Suroso, Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, menilai gebyak ini sebagai bukti daya tahan dan komitmen para seniman. “Para pelaku topeng adalah penjaga identitas budaya. Mereka rutin menggelar gebyak untuk bersih desa, hajatan, dan festival. Ini ajang reuni budaya yang memperkaya gaya Brang Wetan dan Brang Kidul,” tuturnya.
Hari kedua menampilkan lima kelompok lain, seperti Padepokan Mangun Dharma, Asmoro Bangun, Madyo Laras, Ngesti Pandowo, dan Mantraloka. Festival juga diramaikan dengan Pasar Deling, pameran produk ekonomi kreatif, lomba band pelajar, dan pemutaran film lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Purwoto mengapresiasi. “Festival Ekonomi Kreatif Kabupaten Malang adalah ruang promosi dan kolaborasi yang mempertemukan pelaku kreatif, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Pelestarian budaya harus memberi manfaat nyata bagi masa depan," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....