Dari Kepepet Sampai Menjadi Pengusaha Tape Sukses, Begini Cerita Pak Kasrodin
- 04 Mei 2024 11:51 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang terkenal dengan produksi tapenya. Salah satu produsen tape, Pak Kasrodin yang merupakan ketua kelompok tape menceritakan awal mula dan suka duka usahanya selama dua belas tahun ini. Ia telah memulai usaha tersebut sejak tahun 2012.
“Bisa dikatakan usaha ini hasil kepepet ya, karena tidak ada pekerjaan akhirnya saya membuka usaha jualan tape. Di desa ini potensinya sangat mendukung untuk memproduksi tape, karena sudah warisan atau turun temurun dari nenek moyang,” jelasnya, Sabtu (4/5/2024)
Hingga saat ini Pak Kasrodin mempunya 6 orang karyawan, 3 orang dalam pengupasan singkong, 1 orang di pengolahan, dan 1 orang yang menemaninya berjualan. Pak Kasrodin menjual tape dalam 3 bentuk kemasan, yaitu besek dari bambu, box kardus, dan kemasan dari thinnwalll. Untuk pengemasan besek dijual dengan harga Rp 5000 tape singkong dan Rp15.000 tape ketan, pengemasan kardus hanya Rp5000, sedangkan kemasan thinwall berukuran 1500 ml untuk singkongnya dipatok dengan harga Rp10.000 dan kemasan 650ml untuk ketannya seharga Rp15.000.
Untuk pemasarannya, Pak Kasrodin melakukan berbagai macam cara. Seperti menaruh dagangannya di pedagang sayur, door to door dan juga berjualan online.
“Biasanya saya berangkat dari jam 5 pagi dan pulang nya sekitar jam 12 siang. Pagi itu biasanya saya taruh di pedagang sayur. Setelah itu saya keliling door to door, dari desa ke desa, lalu sisanya cenderung banyak saya jual online. Karena dunia digital sekarang itu harus diikui, kalau tidak maka akan sulit untuk berkembang," ujarnya.
Dalam perkembangannya, Pak Kasrodin mengatakan ada beberapa kesulitan yang ia hadapi. Mulai dari sulitnya bahan baku, cuaca hingga pemasaran. Ia mengatakan di bulan pertama dan kedua biasanya sering kali mengalami kesulitan untuk menemukan bahan yang berkualitas bagus. Hingga akhirnya akan berpengaruh pada hasil akhir dari tape.
"Diwaktu kesulitan mendapatkan singkong dan memaksakan untuk berjualan dengan kualitas singkong yang kurang bagus, hasilnya pun menjadi kurang maksimal. Para pelanggan akan berkurang karena tapenya kurang layak dimakan. Terus di saat musim hujan itu juga saya sulit untuk berjualan keliling.Selain itu ada juga kendala dalam pemasaran, karena UMKM kita masih butuh bimbingan dan dampingan jadi terkendala untuk bisa pemasaran yang go nasional" ujarnya.
Untuk omset, Pak Kasrodin dalam 1 bulannya bisa mendapatkan 13,5 hingga 15jt. Untuk penghasilan bersih sendiri kadang naik turun . Jika kualitas tape tidak bagus otomatis akan merusut sedangkan di saat kualitas bagus dan rame, Pak Kasrodin akan mendapat untung banyak.
“Mungkin kalau ngomongin soal untung tergantung dari bawaan pedagang tape nya kalau kita membawa 80kg lah itu mungkin untung 80-110kg. Sedangkan untuk untung bersihnya dengan dipotong tenaga dan lain lain mungkin sampai 90-110rb karena rata rata di desa kami rata rata menghitungnya global ya hasil penjual di kurangi bahan,” tambahnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....