Sepatu Asal Sawojajar, Sukses Manfaatkan Trend Slow Fashion
- 15 Mar 2024 17:12 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Seorang wanita bernama Desi yang berasal dari Sawojajar, Malang telah berhasil merintis bisnis sendiri sejak tahun 2014. Ia mendirikan bisnis dengan nama brand Remora sekaligus UMKM yang ramah lingkungan.
"Sebelumnya, saya hanya menjadi reseller brand orang dan memasarkan produk tersebut. Namun, setelah mempertimbangkan banyak hal, saya memutuskan untuk mencoba menciptakan produk sendiri," tutur Desi dalam Wawancara Ekslusif di Pro 2 Malang, Jum'at (15/3/2024).
Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, ia memutuskan untuk fokus pada tas dan sepatu kulit dengan harga mulai dari Rp. 200.000,-
Menurut penjelasan dari Desi, sepatu yang ia ciptakan dibuat secara khusus untuk kaki perempuan. Desain yang fleksibel dan mengikuti bentuk kaki kebutuhan setiap perempuan menjadikan sepatu buatannya lebih nyaman dipakai untuk waktu yang lama.
"Apalagi perempuan itu kadang bisa berubah sizenya pas mulai hamil dan melahirkan, jadi aku membuat dari kulit sapi asli," ungkapnya.
Selain itu, melalui brand Remora-nya Desi juga memperhatikan aspek lingkungan dengan memasukkan kulit nabati sebagai bahan untuk semua jenis tas Remora. Sedangkan untuk warna kulit yang ia gunakan yaitu kulit nabati yang diolah dengan menggunakan pewarna alami seperti daun, kulit kayu dan bunga.
"Saya juga memanfaatkan kulit sisa yang tidak digunakan oleh pabrik dan mengubahnya menjadi produk yang berbeda," jelasnya
Desi juga mengakui mengalami kendala dalam penggunaan kemasan atau packing.
"Kami menghindari penggunaan plastik sekali pakai, jadi untuk packing ini kadang masih sering dapat komplain dari pelanggan apalagi saat musim hujan," ujarnya.
Desi berharap agar semakin banyak orang yang memperhatikan lingkungan dalam aktivitas berbelanja. Selain itu, ia ingin mengajak masyarakat untuk mendukung layanan yang memenuhi pendapatan yang layak bagi setiap pekerjanya. Adanya konsep slow fashion menjadi sarana perjuangan bagi para pelaku fashion.
"Kalau ada yang bilang bahwa slow fashion itu mahal dan memang sesuai kebutuhan umur produk slow fashion itu lama, 10 tahun masih bisa dipakai dan itupun kami memberikan fasilitias repair," tegasnya.
Meskipun terkadang slow fashion dianggap sebagai produk yang lebih mahal, tetapi sebenarnya produk-produk tersebut memberikan nilai lebih dengan kesadaran dan kualitas yang tinggi.
"Slow fashion membayar upah berkali kali lipat lebih tinggi untuk para pekerja kami daripada fast fashion, selain cinta bumi pelaku bisnis slow fashion sangat humanis," ungkap Desi.
Hal ini jelas menjadi bukti kepedulian bagi lingkungan dan adil bagi setiap pekerja di dalamnya.
Terakhir, Desi merekomendasikan untuk tetap mempelajari cara merawat dan mengevaluasi kebutuhan dalam menggunakan tas kulit tersebut.
"Banyak dari komunitas-komunitas pecinta tas kulit bisa saling barter atau jual kembali jadi produk yang beredar tidak banyak dan dapat membantu mengurangi jumlah sampah," pesan Desi dalam mengakhiri Wawancara Eksklusif RRI Malang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....