Prahara Nuswantara Berawal dari Perilaku Manusia

  • 06 Okt 2026 15:06 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Prahara Nusantara menempatkan manusia sebagai bagian penting dari rangkaian bencana, karena perilaku manusia dapat memengaruhi keseimbangan alam dan kehidupan. Kerusakan pada alam mikro manusia kemudian dipandang berdampak terhadap alam makro, termasuk lingkungan, cuaca, dan berbagai peristiwa kebencanaan yang terjadi.

“Konsep prahara ini mencakup bencana, kehancuran, kekacauan, dan malapetaka yang dapat muncul ketika keseimbangan kehidupan bersama mulai terganggu serius. Manusia sebagai microcosmos yang mengalami gejala prahara paling awal, sehingga perubahan perilaku manusia menjadi perhatian utama dalam kehidupan masyarakat. Istilah prahara dengan ulah manusia, menunjukkan adanya hubungan antara tindakan manusia dan kerusakan lingkungan sekitar kita,” ujar H.Joko Setiono,ST,M.MT. - Praktisi Seni & Budaya, dalam Obrolan Budaya Pro 1 RRI Malang, Senin (05/10/2026).

Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar menjadi korban bencana, tetapi turut memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan kehidupan bersama secara berkelanjutan. Perubahan alam makro dapat menjadi tanda terganggunya keseimbangan unsur kehidupan, mulai dari tanah, air, udara, hingga lingkungan sekitar manusia sendiri.

“Karena itu, pengendalian diri diperlukan agar kebutuhan dan keinginan manusia tidak berkembang menjadi perilaku yang merusak keseimbangan alam sekitar bersama. Kita sebagai manusia, harus memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya menghadapi bencana, tetapi juga menjaga keberlangsungan hidup manusia bersama secara berkelanjutan,” pesannya.

Manusia memiliki diri, pola pikir, serta langkah yang dituju, sehingga ketiganya perlu diarahkan secara seimbang dalam menjalani kehidupan secara harmonis. Pentingnya rasa syukur harus dimiliki oleh manusia, karena manusia masih sering lemah mengendalikan diri, bahkan ketika menghadapi perubahan alam di sekitarnya sendiri

Rasa syukur dipandang sebagai salah satu cara mengendalikan diri agar manusia mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan berlebihan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan ini juga tercermin dalam pembahasan Serat Kalatidha yang menggambarkan zaman prahara ketika manusia dan negara menghadapi ketidakpastian kehidupan bersama.

“Negara beserta perangkatnya digambarkan tidak mampu menghindari keadaan zaman kolobendu, sehingga hanya dapat diam dan menerima keadaan yang terjadi kemudian. Karena itu, menghadapi prahara membutuhkan pengendalian diri, rasa syukur, dan kesadaran bersama untuk bersama menjaga kehidupan manusia serta lingkungan sekitarnya,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....