Citra Baik Tidak Selalu Menjamin Perilaku Tetap Benar
- 26 Agt 2026 13:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di tengah kehidupan sosial, orang yang dikenal dermawan, rajin membantu, atau aktif dalam kegiatan sosial biasanya mendapatkan penilaian positif dari lingkungan. Ketika suatu saat melakukan kesalahan, masyarakat terkadang lebih mudah memberikan toleransi karena mengingat berbagai kebaikan yang pernah dilakukannya. Fenomena seperti inilah yang menjadi salah satu pembahasan psikolog Ika Herani, S.Psi., M.Si., dalam program Obrolan Psikologi RRI Malang, Senin (17/8/2026), bertema “Berbuat Baik Itu Penting Tapi Jangan Jadi Alasan”.
Ika menerangkan bahwa seseorang dapat mengalami moral licensing ketika tindakan baik pada masa lalu membuatnya merasa memiliki izin untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya salah. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada orang biasa, tetapi juga dapat muncul pada seseorang yang memiliki citra positif di masyarakat. “Orang yang memiliki citra positif atau dermawan sering kali mendapatkan pemakluman dari masyarakat saat membuat kesalahan,” jelas Ika.
| Baca juga: Circle Pertemanan Jadi Penentu Arah Hidup |
Citra positif di media sosial juga dapat memperkuat kondisi tersebut. Seseorang yang terus membangun branding sebagai pribadi dermawan, religius, atau peduli terhadap sesama dapat memiliki tekanan untuk mempertahankan citra tersebut. Ketika melakukan kesalahan, dirinya bisa bersikap defensif karena merasa tindakan tersebut tidak sesuai dengan identitas baik yang selama ini dibangun. Dalam kondisi tertentu, pengikut atau masyarakat juga dapat ikut memberikan pembenaran karena lebih melihat rekam jejak kebaikan daripada kesalahan yang sedang terjadi.
Dalam kehidupan sehari-hari, moral licensing bisa muncul dalam berbagai bentuk. Seorang pekerja yang merasa telah memberikan kontribusi besar kepada perusahaan dapat merasa berhak melanggar aturan tertentu. Seseorang yang sering membantu temannya dapat merasa bebas menggunjing teman tersebut. Fenomena serupa juga dapat terjadi dalam dunia bisnis ketika kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan digunakan untuk membangun citra positif, kemudian citra tersebut secara tidak langsung menjadi alasan untuk meminta toleransi terhadap agenda perusahaan lainnya.
Selain moral licensing, Ika memperkenalkan konsep moral cleansing, yaitu kecenderungan melakukan kebaikan setelah seseorang melakukan kesalahan untuk mengurangi rasa bersalah. Kedua konsep tersebut menunjukkan bahwa tindakan baik maupun buruk dapat berkaitan dengan cara seseorang menilai dirinya sendiri. Namun, melakukan kebaikan setelah kesalahan tidak berarti kesalahan tersebut otomatis menjadi hilang atau tidak perlu dipertanggungjawabkan.
Ika menekankan pentingnya konsistensi dan integritas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Kebaikan bukanlah ‘tabungan’ yang bisa ditukar atau dikonversi untuk menghapus kesalahan,” tegasnya. Karena itu, setiap orang perlu melakukan refleksi dan mempertanyakan alasan di balik tindakannya. Berbuat baik seharusnya dilakukan karena memang benar dan bermanfaat, bukan untuk memperoleh izin melakukan kesalahan atau membangun pembenaran atas perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....