“Sering Berbuat Baik” Sedikit Kejahatan Tak Apa?

  • 26 Agt 2026 13:41 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang merasa sudah cukup berbuat baik sehingga memberi kelonggaran kepada dirinya sendiri untuk melakukan kesalahan. Misalnya, seseorang yang rajin membantu teman kemudian merasa wajar ketika membicarakan keburukan teman tersebut, atau pekerja yang sering lembur merasa pantas datang terlambat karena menganggap kontribusinya sudah lebih besar. Pola pikir seperti ini menjadi salah satu fenomena psikologis yang dibahas dalam program Obrolan Psikologi RRI Malang, Jumat (21/8/2026) bersama psikolog Ika Herani, S.Psi., M.Si.

Ika menjelaskan bahwa kondisi tersebut dikenal sebagai moral licensing, yaitu kecenderungan seseorang menggunakan kebaikan yang pernah dilakukan sebagai alasan untuk membenarkan tindakan yang salah. “Kebaikan yang pernah dilakukan di masa lalu” dapat dianggap sebagai semacam izin bagi seseorang untuk melakukan pelanggaran pada kesempatan berikutnya. Pola pikirnya dapat berupa anggapan bahwa karena sudah rajin beribadah, sering bersedekah, atau banyak membantu orang lain, maka melakukan satu kesalahan tidak menjadi persoalan besar.

Menurut Ika, fenomena tersebut dapat muncul karena seseorang merasa memiliki “tabungan moral” dari berbagai tindakan positif yang pernah dilakukan. Selain itu, konsep diri sebagai orang baik atau religius juga dapat membuat seseorang merasa kesalahan kecil tidak akan mengubah identitas dirinya. Kondisi tersebut bahkan dapat semakin kuat ketika seseorang mempunyai posisi penting atau pengaruh di tengah masyarakat. “Kekuasaan yang dipadukan dengan citra positif sering memperbesar peluang terjadinya moral licensing,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam pembahasan tersebut.

Fenomena ini juga dapat terlihat dalam lingkungan kerja. Seseorang yang merasa selalu mencapai target atau sering bekerja lembur dapat menganggap dirinya memiliki hak untuk sesekali datang terlambat, pulang lebih awal tanpa izin, bahkan memanipulasi laporan. Dalam hubungan sosial, seseorang yang sering membantu temannya juga dapat merasa memiliki alasan untuk mengkritik atau menggunjing orang tersebut. Bahkan dalam dunia bisnis, kegiatan sosial perusahaan dapat berpotensi digunakan sebagai pembenaran terhadap agenda lain yang sebenarnya bertentangan dengan norma atau kepentingan lingkungan sekitar.

Ika juga menjelaskan istilah lain yang berkaitan, yakni moral cleansing. Jika moral licensing terjadi ketika kebaikan dijadikan pembenaran untuk melakukan kesalahan, moral cleansing justru menggambarkan kondisi ketika seseorang yang telah melakukan kesalahan kemudian melakukan perbuatan baik untuk mengurangi rasa bersalahnya. Keduanya menunjukkan bagaimana seseorang dapat menggunakan tindakan moral untuk mengatur perasaan dan penilaian terhadap dirinya sendiri.

Karena itu, Ika mengingatkan agar kebaikan tidak diperlakukan seperti tabungan yang dapat ditukar dengan kesalahan. Seseorang perlu melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri dan bertanya apakah tindakan yang dilakukan memang karena keadaan atau justru sekadar mencari alasan. “Kebaikan bukanlah tabungan yang bisa ditukar atau dikonversi untuk menghapus kesalahan,” menjadi pesan penting dalam pembahasan tersebut. Integritas, menurut Ika, justru terlihat ketika seseorang tetap memilih melakukan hal yang benar meskipun tidak ada orang lain yang melihat dan tidak mendapatkan pujian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....