Transaksi QRIS Meningkat, Mampukah Dongkrak Ekonomi Kota Pelajar?

  • 03 Agt 2026 10:20 WIB
  •  Malang
Oleh : Prof Dodi W. Irawanto, Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi

RRI.CO.ID, Malang - Ekosistem QRIS nasional tengah berada pada fase akselerasi yang kuat, tercermin dari 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant dengan pertumbuhan ekonomi dan keuangan digital yang positif, didukung strategi perluasan akseptasi dan fitur QRIS sebagai pengungkit utama inklusi keuangan.

Dalam FGD BI dan Akademisi di Yogyakarta 31 Juli lalu menarik didiskusikan bahwa prospek transaksi digital utamanya di daerah yang dominan penduduk nya adalah digital native seperti Kota wisata maupun kota pelajar.

Kota Malang dimana merupakan salah satu kota pelajar, prospek di mulainya tahun ajaran baru 2026/2027 memperlihatkan paradoks yang menarik. Data bulan Juni 2026, di wilayah kerja BI Malang, terlihat bahwa Kota Malang berperan sebagai “episentrum” QRIS: hingga Juni 2026, dari total 21,9 juta transaksi QRIS senilai Rp 1,73 triliun, sekitar 68,5 persen volume (15,01 juta transaksi) dan 61,6 persen nominal (Rp 1,06 triliun) berasal dari Kota Malang.

Fakta ini menjadikan kota pelajar ini motor utama realisasi agenda QRIS nasional di tingkat lokal dan menunjukkan betapa kuatnya integrasi kebiasaan pembayaran digital dalam kehidupan sehari-hari warga dan mahasiswa.

Terlihat bahwa Malang tampil sebagai salah satu wajah paling konkret keberhasilan agenda nasional ekonomi dan keuangan digital; di sisi lain, kota pelajar ini tetap harus bergulat dengan risiko perlambatan ekonomi yang menekan daya beli dan dinamika sektor riil.

Paradoks ini layak dibaca bukan sekadar sebagai statistik, tetapi sebagai tantangan kebijakan bagi perguruan tinggi dan pemerintah daerah untuk mengubah QRIS dari sekadar infrastruktur pembayaran menjadi instrumen penciptaan nilai ekonomi baru.

Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, ribuan mahasiswa baru yang datang ke Malang akan segera menyatu ke dalam arus besar transaksi digital tersebut. Generasi muda yang digital native cenderung memilih QRIS dan BI-FAST sebagai medium pembayaran utama untuk kebutuhan kos, kuliner, transportasi, dan layanan kampus.

Di sini, perguruan tinggi di Malang memiliki peluang strategis: menjadikan kampus bukan hanya pengguna QRIS, tetapi simpul ekosistem, melalui integrasi pembayaran SPP, UKT, kantin, koperasi, hingga kegiatan organisasi mahasiswa ke dalam satu lanskap keuangan digital yang tertata

Meski demikian, kuatnya sistem pembayaran tidak otomatis menghapus risiko perlambatan ekonomi. Data BI mengindikasikan bahwa sekalipun transaksi digital tumbuh positif, beberapa segmen seperti e-commerce dan belanja pemerintah mengalami moderasi, yang mencerminkan tekanan permintaan agregat.

Di tingkat lokal, pelaku UMKM di sekitar kampus bisa merasakan perlambatan melalui penurunan frekuensi belanja atau perubahan pola konsumsi mahasiswa, meskipun volume transaksi QRIS secara nominal tetap tampak meningkat. Tanpa intervensi kebijakan, QRIS berpotensi hanya menjadi cermin yang merekam perlambatan, bukan tuas yang mengatasinya.

Karena itu, prospek QRIS di Malang pada tahun ajaran baru perguruan tinggi seharusnya diarahkan melampaui efisiensi teknis menuju fungsi produktif. Kampus, pemerintah daerah, dan BI dapat menyinergikan data QRIS sebagai dasar perancangan program diskon, bundling layanan, dan festival kuliner atau kreatif yang menargetkan mahasiswa sekaligus menghidupkan UMKM lokal.

Agenda BSPI 2030 dan inisiatif seperti Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), Hackathon Digdaya, serta FEKDI x IFSE membuka ruang bagi perguruan tinggi di Malang untuk memposisikan mahasiswa bukan hanya sebagai pengguna QRIS, tetapi sebagai inovator yang mengembangkan solusi keuangan digital untuk problem riil kota pelajar berhadapan dengan perlambatan ekonomi.

Pada akhirnya ambil contoh Kota Malang sebagai pelajar dan ada juga Bandung, Yogyakarta yang juga kota pelajar menunjukkan bahwa kota pelajar ini adalah laboratorium penting bagi masa depan ekonomi digital Indonesia.

Jika Bank Indonesia dan perguruan tinggi menjadikan QRIS sebagai basis inovasi, bukan sekadar fasilitas pembayaran, maka perlambatan ekonomi dapat direspons dengan kreativitas kebijakan dan kewirausahaan mahasiswa, sehingga kota pelajar di Indonesia tak hanya dominan dalam angka transaksi, tetapi juga dalam kualitas transformasi ekonomi digitalnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....