Iduladha Ramah Lingkungan: Ikhtiar Kecil yang Membawa Keberkahan Besar
- 28 Mei 2026 16:50 WIB
- Malang
Oleh DK. Wardhani - Penulis Buku Menuju Rumah Minim Sampah dan Bye-bye Sekali Pakai
Setiap Iduladha, masjid dan musala dipenuhi semangat berbagi. Daging kurban dibagikan kepada warga, kebersamaan terjalin, dan syiar kepedulian sosial terasa begitu hangat. Namun di balik suasana itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: tumpukan sampah yang dihasilkan selama proses kurban.
Sebagai pegiat lingkungan, saya melihat bahwa semangat beribadah dan menjaga bumi sebenarnya bisa berjalan beriringan. Bahkan, beberapa tahun terakhir, semakin banyak panitia kurban dan warga yang mulai mencoba praktik Iduladha ramah lingkungan dengan cara-cara sederhana namun berdampak besar.
Salah satu langkah yang paling terlihat adalah perubahan wadah pembagian daging kurban. Dahulu, kantong plastik sekali pakai hampir selalu menjadi pilihan utama. Kini, banyak panitia mulai beralih menggunakan besek bambu yang dialasi daun jati agar daging tidak menetes. Selain lebih alami dan estetik, besek juga bisa digunakan kembali atau dikomposkan.
Jika biaya besek dirasa cukup tinggi, ada solusi kreatif lain yang mulai diterapkan di beberapa tempat. Besek dapat dipisahkan antara tutup dan wadahnya agar lebih hemat. Alternatif lain adalah menggunakan brongsong, wadah anyaman bambu yang biasa digunakan untuk tahu Sumedang atau ubi Cilembu. Selain mudah terurai, penggunaan wadah tradisional ini juga membantu menghidupkan ekonomi perajin lokal.
Ada pula masjid yang menerapkan sistem “wadah dari rumah”. Jamaah diminta membawa atau menyumbangkan thinwall, wadah berkat, maupun food container yang sudah dimiliki warga. Cara ini sederhana, tetapi efektif mengurangi pembelian plastik baru (tentu juga lebih hemat anggaran) dan menumbuhkan budaya pakai ulang di masyarakat.
Selain sampah plastik, ada jenis sampah lain yang sering dianggap sepele tetapi sebenarnya cukup berbahaya, yaitu tusuk sate bekas. Jika dibuang begitu saja, tusuk sate dapat melukai petugas kebersihan, pemilah sampah, bahkan hewan.
Karena itu, pengelolaan tusuk sate juga perlu menjadi perhatian. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan:
- mematahkan tusuk sate sebelum dibuang,
- membakar ujungnya agar tidak tajam,
- membakar seluruhnya bersama arang bekas membakar sate,
- mengomposkannya jika berbahan bambu alami,
- memanfaatkannya kembali sebagai pagar tanaman untuk menghalau kucing.
Hal kecil seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi sangat berarti bagi keselamatan orang lain dan mengurangi residu sampah berbahaya.
Di lokasi penyembelihan, tantangan lain yang sering muncul adalah bau prengus dan limbah organik. Beberapa panitia kini mulai menggunakan eco enzyme untuk membantu mengurangi bau di sekitar area pemotongan hewan. Cairan hasil fermentasi limbah organik ini cukup efektif membantu menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.
Pengelolaan limbah darah, isi perut, dan kotoran hewan juga penting diperhatikan. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah dapat mencemari saluran air dan menimbulkan bau. Sebagian komunitas sudah mulai mengubur limbah organik di lubang khusus atau mengolahnya menjadi kompos setelah melalui proses tertentu.
Iduladha ramah lingkungan juga dapat diterapkan pada konsumsi panitia. Makanan dan minuman untuk petugas kurban bisa disajikan dengan konsep minim sampah, misalnya menggunakan piring kaca, gelas pakai ulang, dispenser, dan galon isi ulang daripada air kemasan sekali pakai. Langkah ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghemat pengeluaran panitia.
Tentu, tidak semua masjid atau lingkungan memiliki kemampuan menerapkan seluruh konsep tersebut sekaligus. Namun semangat keberlanjutan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Jika belum bisa mengganti semua kantong plastik, mungkin bisa mulai dari membawa wadah sendiri. Jika belum mampu menyediakan alat makan pakai ulang untuk semua orang, setidaknya bisa mengurangi penggunaan styrofoam atau botol sekali pakai.
Pada akhirnya, Iduladha bukan hanya tentang berbagi daging, tetapi juga tentang menebarkan kemaslahatan. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri. Dan sering kali, perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama.
Semoga semangat kurban tidak hanya menghadirkan keberkahan bagi manusia, tetapi juga kebaikan bagi bumi yang kita tinggali bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....