Budaya Cek Fakta Dinilai Penting Tekan Penyebaran Hoaks
- 17 Mei 2026 17:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Penyebaran hoaks dan informasi palsu di media sosial masih menjadi tantangan besar di tengah meningkatnya penggunaan internet di masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai budaya cek fakta dinilai penting untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam menerima maupun membagikan informasi digital.
Praktisi literasi digital, Eflina Mona, mengatakan kebiasaan memverifikasi informasi harus mulai dibangun dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan kelompok pertemanan. Menurutnya, masyarakat tidak perlu segan menegur apabila menemukan informasi yang tidak benar beredar di grup percakapan maupun media sosial.
“Kalau ada informasi yang ternyata tidak benar, jangan segan menegur langsung meskipun itu keluarga sendiri. Kita harus memberikan edukasi bahwa informasi tersebut salah dan perlu dicek dulu kebenarannya,” ujarnya dalam dialog Literasi Digital di Pro 1 RRI Malang, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, langkah sederhana seperti mencari sumber informasi melalui mesin pencarian internet dapat membantu masyarakat memahami validitas suatu berita. Masyarakat juga dianjurkan membandingkan informasi dari beberapa sumber media yang kredibel sebelum mempercayai atau menyebarkannya kembali.
“Cari sumber datanya di Google, lakukan verifikasi. Minimal cari lima sampai enam artikel atau berita yang mendukung informasi tersebut. Lihat sumber beritanya jelas atau tidak. Jangan langsung percaya hanya karena muncul di media sosial,” katanya.
Menurutnya, masyarakat perlu mulai membiasakan diri menghentikan penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Sikap tersebut dinilai penting untuk mencegah hoaks semakin meluas dan menimbulkan dampak negatif di masyarakat.
“Kalau informasinya belum jelas, cukup berhenti di kita saja. Tidak perlu langsung dibagikan. Kita harus bisa menilai apakah informasi itu layak disebarkan atau tidak,” ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi mengenai cek fakta sebenarnya dapat dilakukan melalui percakapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan komunikasi yang santai dinilai lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dibandingkan sekadar memberikan larangan.
“Kita harus ajarkan pelan-pelan. Sesimpel ngobrol dan mengingatkan mereka saat ada informasi yang meragukan. Kadang ada yang bilang supaya grup ramai, akhirnya asal kirim informasi tanpa dicek dulu. Padahal harus dikonfirmasi terlebih dahulu,” katanya.
Selain mengedukasi soal cek fakta, masyarakat juga didorong lebih selektif dalam mengakses informasi digital. Salah satunya dengan mengisi perangkat digital menggunakan sumber informasi yang relevan, terpercaya, dan sesuai kebutuhan pengguna.
“Kita bisa bantu orang tua atau keluarga dengan mengisi ponsel mereka menggunakan langganan informasi yang relevan dan terpercaya. Misalnya mengikuti akun edukasi, media resmi, atau subscription yang memang cocok buat mereka,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting terutama untuk membantu masyarakat yang masih kurang memahami teknologi digital agar tidak mudah menjadi korban penipuan online, phishing, maupun tautan palsu yang banyak beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
“Yang paling dikhawatirkan itu penipuan, phishing, atau link palsu yang disebarkan lewat pesan dan media sosial. Edukasi seperti ini penting terutama untuk membantu orang tua yang masih gaptek agar lebih aman saat menggunakan internet,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....