Populer tanpa Kehilangan Arah, Ini Pesan Penting untuk Generasi Digital

  • 08 Apr 2026 16:14 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Di tengah derasnya arus media sosial, menjadi populer kerap dianggap sebagai tolak ukur kesuksesan. Namun, di balik popularitas yang diraih, terdapat tantangan besar untuk tetap menjaga arah hidup. Hal ini disampaikan oleh Dr. Eng Elya Mufidah, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya sekaligus anggota Komunitas ProWomen Malang.

Menurut Elya, popularitas seharusnya dibangun dari nilai dan manfaat, bukan sekadar sensasi. Ia menegaskan bahwa konten yang dibuat harus memiliki isi yang kuat agar mampu bertahan lama di tengah persaingan digital.

“Orang mungkin datang karena penasaran, tapi mereka akan bertahan karena manfaat yang kita berikan,” ujarnya, Selasa (8/4/2026)

Ia juga mengingatkan bahwa popularitas yang tidak disertai kontrol diri dapat membuat seseorang kehilangan arah. Salah satu cara menjaga konsistensi adalah dengan memiliki “jangkar komunitas”, yaitu orang-orang terdekat yang berani mengingatkan ketika seseorang mulai melenceng.

“Pasangan, sahabat, atau guru adalah sosok penting yang bisa menegur kita. Tanpa itu, kita bisa kehilangan arah secara perlahan,” jelasnya.

Elya mengibaratkan lingkungan pertemanan seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Teman yang baik akan membawa pengaruh positif, sementara lingkungan yang buruk bisa merusak karakter. Oleh karena itu, memilih lingkaran pertemanan menjadi langkah penting dalam menjaga integritas diri di tengah popularitas.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan tidak hanya dilihat dari jumlah pengikut di media sosial. Banyak tokoh yang tidak memiliki banyak follower digital, tetapi memiliki pengaruh besar di dunia nyata.

“Pertanyaannya, apakah kita hanya ingin populer di media sosial atau ingin mendapatkan ridha Allah?” tegasnya.

Untuk menjaga karakter setelah dikenal luas, Elya memberikan beberapa kunci penting, di antaranya fokus pada isi, menjaga keharmonisan keluarga, mengendalikan penggunaan media sosial, serta melakukan evaluasi diri secara rutin. Dalam perspektif spiritual, ia menambahkan tiga konsep utama dalam Islam, yakni muhasabah (introspeksi), mujahadah (bersungguh-sungguh memperbaiki diri), dan muraqabah (merasa diawasi Allah).

Di era digital saat ini, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam perbandingan sosial. Menurutnya, memperdalam ilmu dan terus belajar adalah cara terbaik untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.

“Populer itu bisa menjadi rezeki sekaligus ujian. Jangan sampai kita dikenal di luar, tetapi asing di rumah. Jangan sampai dipuji manusia, tetapi jauh dari Allah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....