Ajaran Buddha Jadi Panduan Pendidikan Anak

  • 07 Apr 2026 20:15 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ajaran Buddha tentang tiga ciri universal kehidupan dinilai dapat menjadi panduan penting dalam membentuk kebijaksanaan anak sejak dini. Hal tersebut disampaikan dalam program Mimbar Agama Buddha PRO 1 RRI Malang oleh Junari, S.Ag., Selasa (7/4/2026).

Junari menjelaskan, tiga ciri tersebut meliputi anicca (ketidakkekalan), dukkha (penderitaan atau proses kehidupan), dan anatta (tanpa inti diri yang tetap). Pemahaman terhadap ketiga hal ini dinilai mampu membantu anak menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan lebih bijak.

Konsep anicca atau ketidakkekalan dapat dikenalkan melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mainan yang lama-kelamaan rusak atau hewan peliharaan yang suatu saat akan mati. “Dari situ anak belajar bahwa semua yang ada tidak bersifat abadi. Ini penting agar mereka tidak mudah merasa kehilangan secara berlebihan,” jelasnya.

Dengan memahami ketidakkekalan, anak diharapkan mampu menerima perubahan tanpa larut dalam kesedihan. Mereka tidak mudah putus asa, melainkan memahami bahwa perubahan adalah bagian wajar dari kehidupan. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan mental anak.

Selain itu, konsep dukkha mengajarkan bahwa kehidupan adalah proses yang tidak selalu menyenangkan. Orang tua, menurut Junari, tidak perlu selalu melindungi anak dari rasa sakit atau kegagalan. Justru melalui pengalaman tersebut, anak belajar untuk bangkit dan berkembang. “Ketika anak jatuh, jangan langsung menyalahkan keadaan. Ajak mereka memahami rasa sakit itu dan bangkit kembali,” ujarnya.

Dalam konteks emosi, Junari juga menyoroti pentingnya pengendalian diri. Ia melihat banyak anak saat ini mudah marah akibat ego yang kuat. Oleh karena itu, diperlukan latihan untuk mengelola emosi, seperti mengatur napas dan melatih kesadaran diri. “Amarah itu datang dan pergi seperti awan. Anak perlu diajarkan untuk mengenali dan mengendalikannya,” tambahnya.

Sebagai metode praktis, anak dapat dilatih untuk bertanya pada dirinya sendiri sebelum bertindak, seperti apakah perbuatannya baik, tidak merugikan orang lain, dan membawa manfaat. Selain itu, praktik meditasi juga dianjurkan untuk membantu mengembangkan kejernihan pikiran dan kebijaksanaan.

Di akhir pemaparannya, Junari menegaskan bahwa pendidikan kebijaksanaan harus dilakukan secara konsisten oleh orang tua. Anak perlu dibimbing memahami bahwa hidup selalu berubah, penuh proses, dan ego dalam diri harus dilatih agar tidak mendominasi. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dalam menjalani kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....