Dari Kanjuruhan Hingga Penetapan Hari Jadi Kabupaten Malang

  • 29 Nov 2025 17:04 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Hari Jumat tanggal 28 November 2025 kemarin diperingati Hari Jadi Kabupaten Malang yang ke-1265, suatu masa tahun yang sangat panjang. Bagaimana asal mula penetapan tersebut sampai mendapati angka yang mencapai seribu tahun lebih? Ternyata masa penanggalan itu diambil dari adanya prasasti yang tertua di Malang dan juga di Jawa Timur, yaitu prasasti yang ditemukan di Dinoyo dan Merjosari (ditemukan di dua desa itu karena batu prasastinya terpecah menjadi tiga bagian, bagian yang besar ditemukan di Dinoyo, 2 bagian yang lain ditemukan di Merjosari).

Prasastinya berbahasa Sanskerta dan hurufnya Jawa Kuno, memuat penanggalan yang ditulis dengan angka, yaitu 682 Śaka dan juga dalam bentuk sangkala, yang di dalam baris 13-15 berbunyi:’ śakābde nayana vasu rase mārggaśīrṣe ca māse ārdrarkṣe śukravāre pratipada divase pakṣa sandhau’, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, adalah: ’pada tahun Śaka nayana (mata=2) basu (para Vasu yg jumlahnya 8) rasa (rasa itu indra ke 6), bulan margasirsa bintang ardra (bintang ke 5), hari Jumat tanggal 1 paro gelap’. Jika dikonversi ke tahun Masehi jatuh pada hari Jumat, pasarannya Legi, paringkelannya Tunglai, wukunya Wariga, tanggal 28 bulan November tahun 760.

Pemilihan tanggal 28 November 760 itu atas dasar hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Ulang Sejarah Hari Jadi Kabupaten Malang yang diketuai oleh M. Habib Mustopo, dosen jurusan sejarah IKIP Malang waktu itu (sekarang Universitas Negeri Malang), yang hasil penelitiannya ditandatangani tanggal 6 September 1984 oleh bupati Malang saat itu, yakni Eddy Slamet. Hari Jadi Kabupaten Malang tanggal 28 Nopember tersebut ditetapkan melalui surat keputusan DPRD Kabupaten Malang no. 2 tanggal 21 November 1984.

Perlu untuk mendapatkan perhatian bahwa dalam mencari ‘hari jadi‘ berdirinya suatu kota, memang tidak ada dasar atau kriteria yang baku. Sebenarnya juga tidak ada suatu keharusan bagi kota/kabupaten untuk menentukan kapan berdirinya kota/kabupaten tersebut, karena pada dasarnya kebanyakan terbentuk atas dasar besluit pemerintah Belanda.

Kalau konsisten berdasar data dan arsip kuno, tidak akan pernah ada yang menyebut nama kota/kabupaten yang bersangkutan. Kalaupun kita mau jujur, keinginan mencari hari jadi kota/kabupaten baru timbul sekitar tahun 1970-an.

Pada masa itu banyak kepala daerah mendatangi ahli sejarah guna mencarikan tanggal yang dianggap sebagai ‘hari jadi‘ daerahnya, padahal sebelumnya sudah ada data besluit dari Belanda tentang pengangkatan bupati pertama di daerah tersebut yang jelas menyatakan itulah tanggal berdirinya pemerintahan kabupaten, tetapi kebanyakan tidak mau menggunakan dengan alasan itu buatan Belanda.

Sebelum tahun 1970-an belum pernah muncul rencana mencari hari jadi kota/kabupaten. Yang ada hanya peringatan HUT kemerdekaan RI yang sudah jelas tanggal ikrarnya, yaitu 17 Agustus 1945.

Perlu pula untuk dipahami bahwa dalam Prasasti Dinoyo tidak ada sebutan Kabupaten Malang atau nama Malang sekalipun. Nama ‘Malang‘ itu sendiri pertama kali disebut dalam Prasasti Pamotoh taun 1198 M, yang menyebut adanya suatu daerah di lereng timur Gunung Kawi yang disebut ‘sakrida ning Malang’, artinya tempat perburuan bernama Malang.

Tim peneliti pada waktu itu hanya berdasar pada kontinuitas sejarah pemerintahan yang dimulai dari masa adanya Kerajaan Kanjuruhan hingga sekarang. Jika diruntut berdasar data historis, wilayah Malang diawali abad VIII dengan adanya pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan, kemudian di abad IX-X-XI justru pecah menjadi 4 wilayah ‘watak‘ (setingkat kadipaten), yaitu watak Kanuruhan (keraton sekitar Dinoyo, wilayahnya Malang tengah hingga timur), watak Waharu (keraton sekitar Dau, wilayahnya Malang barat), watak Hujung (keraton sekitar Singosari, wilayahnya Malang utara hingga timur), dan watak Tugaran (keraton sekitar Kepanjen, wilayahnya Malang selatan hingga timur).

Masa Singhasari menjadi Kerajaan Singhasari, masa Majapahit menjadi Kadipaten Tumapel, dan masa akhir Majapahit berdasar naskah Jawa Co. Lor. 3035 berdiri Kerajaan Sengguruh. Setelah itu dikuasai oleh Kerajaan Mataram Islam setelah keraton Supit Urang dikuasai tentara Mataram, yang oleh karena itu disebut ‘Kutho Bedah‘. Setelah Kompeni Belanda menguasai daerah Pasuruan, maka di Malang ditunjuk bupatinya yaitu Raden Tumenggung Kartonegoro tahun 1812, yang akhirnya bergantian bupati-bupati berikutnya yang beberapa diantaranya dimakamkan di Gribig-Malang.

Demikianlah sekali lagi ditekankan bahwa Hari Jadi Kabupaten Malang bukan merujuk kepada berdirinya pemerintahan kabupaten, tetapi atas dasar adanya awal pemerintahan di Malang, yang oleh Tim penggali hari jadi Kabupaten dipilih penanggalan tertua adanya pemerintahan di Malang, yaitu Kerajaan Kanjuruhan.

Dalam peringatan Hari Jadi kabupaten Malang ke 1265 ini perlu diapresiasi semangat keagamaan dan budaya yang melatarbelakanginya, sebab Kerajaan kanjuruhan yang dijadikan orientasi oleh Kabupaten Malang itu dahulu didirikan atas dasar ketaatan beribadah dalam agamanya, dan menjalankan pemerintahan atas dasar hukum agamanya tersebut.

Penulis: Suwardono (Sejarawan Malang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....